Menteri Agama Yaqut Cholil Choumas Lupa Masjid - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menteri Agama Yaqut Cholil Choumas Lupa Masjid



Oleh : Muhibuna M. Said

SUARA MANA YANG Yaqut Cholil Choumas IKUTI ?

Masjid adalah tempat pergerakan Islam sekaligus peradaban itu dibangun, tidak hanya itu masjid juga merupakan tempat sebangsa manusia menunjukan status, peran, serta fungsi eksistensi kemandirian dirinya. Indikasi dari ummat Islam dan mesjid adalah, berkaitan dengan yang paling mulia disisi Tuhan adalah ketakwaan, karena sejatinya kemuliaan takwa bagi Tuhan bukanlah dilihat dari tolak ukur perbedaan suku, ras, warna kulit, tapi yang menjadikan setiap orang berbeda dalam ketakwaan di ruang lingkup Indonesia. Terkhususnya yang beragam agama hanyalah perbedaan tempat ibadah, dan tata cara beribadah, hal tersebut niscaya lagi rasional (Logosentrisme) tidak ada lagi bantahan. 

Pernyataan yang kemudian dikeluarkan oleh Mentri Agama Yaqut Cholil Choumas, yang juga beragama Islam tentunya, dengan lompatan kelemahan dalam permainan logikanya yang mengatakan pengeras suara mesjid itu selaras dengan gonggongan suara anjing. Ilustrasinya adalah ketika pengeras suara mesjid pada saat azan itu dikumandangkan oleh seorang muazin untuk melaksanakan sholat berzama’ah, Mentri Agama Yaqut Cholil Choumas, sekaligus mendengarkan suara keduanya secara bersamaan (suara manusia dan suara binatang). SUARA MANA YANG Yaqut Cholil Choumas IKUTI ? kalau yang diikuti adalah gonggongan suara anjing maka instrumennya adalah, “Islam tinggal nama, Al-Qur’an tinggal tulisan, Masjid tinggal bangunan” masih ada kelonggaran ruang dan waktu untuk bertobat Mentri Agama Yaqut Cholil Choumas. Tapi alangkah lebih baik yang harus diikuti adalah penggeras suara (toa) yang datang dari arah masjid. 

Gonggongan suara anjing tentu tidak asing lagi untuk didengar, begitupun dengan penggeras suara. Tapi anjing bagi sebagian orang merasa jijik kalau didekati, bahkan ada hukum-hukum yang mengatakan syarat yang kemudian dilakukan ketika anjing itu menjilat dibagian tubuh kita, mungkin karena syarat tersebut jijik itu hadir ketika seseorang mendekati anjing atau sebaliknya anjing mendekatinya. Bukan berarti orang muslim tidak memelihara anjing, tapi banyak yang masih keliru menghormati dan menghargai anjing.

Sama halnya saja dengan statemen yang dikeluarkan oleh Mentri Agama itu sendiri bahwa “pengeras suara sama dengan gonggongan suara anjing” logika ini berarti berbanding terbalik pengeras suara itu tentu dari mesjid, berarti mesjid itu tempat yang bukan untuk didekati, karena najis, kotor, dan lain sebagainya. karena kalau ketika didekati, ada hukum-hukum dan syarat tertentu yang dianjurkan untuk membersihkan diri. Mentri Agama Yaqut Cholil Choumas, tentu tahu, bahwa yang mendatangi mesjid adalah mereka yang telah membersihkan diri, dan menjaga diri ketika menyiapkan diri, sampai pada perjalanan menuju masjid.

Mentri Agama Yaqut Cholil Choumas, yang menyamakan “pengeras suara sama dengan gonggongan suara anjing” faktor inilah yang kemudian menghadirkan sebuah pandangan balik terhadap Mentri Agama “Mentri Agama Yaqut Cholil Choumas Lupa Mesjid” sekelas Mentri Agama membangun hal kontroversi terkait agama, Yaqut Cholil Choumas buta pada Agama. Karena orang yang paham tentang agama, tentu statmen yang dibangun memberikan keselamatan dan kedamaian bagi agama, bukan yang terjadi adalah sebaliknya. Hal ini menandakan bahwa ada gagasan kebenaran yang telah dibuktikan Mentri Agama Yaqut Cholil Choumas, pada bukunya Ali Syariati “Agama Versus Agama” bahwa watak intoleransi sebenarnya bukan hanya pada perbedaan agama, tapi pada satu agama yang berpegang pada satu kitab suci yang sama. Tapi bagi para pembaca sekaligus menyimak yang bijak, bahwa orang yang mengeluarkan statmen itulah yang disalahkan, bukan menyalahkan Agamanya.

Walhasil, logika yang kemudian dibangun dari Mentri Agama Yaqut Cholil Choumas, adalah rasionalisme, dan untuk memulihkan kesadarannya adalah menuju pada rasionalitas. Sesuai dengan perkembangan zaman di situasional yang global akan senantiasa berkaitan dengan teknologi. Nah, Mentri agama Yaqut Cholil Choumas, tidak menerima konsep modernitas tapi jatuh pada modernisme.

Ada sabda Nabi SAW, yang mengatakan “Barangsiapa yang berbuat sesuai yang diketahuinya (ilmunya) maka Allah SWT akan menganugrahinya ilmu yang sebelumnya ia tidak mengetahuinya”, tafsiran sabda ini kita kembalikan pada Mentri Agama Yaqut Cholil Choumas, berkaitan dengan statmennya adalah Ummat Islam menginginkan untuk segera turun dari jabatan sebelum dilakukannya pemecatan. 

Mentri Agama Yaqut Cholil Choumas lupa masjid, hal ini menandakan telah kehilangan kesadaran akan tali persaudaraan, karena dari sisi lain mesjid adalah tempat bagi orang muslim dalam menjalankan ibadah, mesjid juga merupakan tempat dimana Tuhan senantiasa menegur terhadap ummatnya, bahwa persatuan umaat Islam seperti merapatkan barisan shaf jama’ah di dalam masjid.

Pembaca yang budiman, mari sama-sama kita mengajak pikiran kita untuk mencoba menerobos masuk kedalam untuk mengetahui apa maksud dibalik statmen Mentri Agama tersebut. Sudah menjadi barang tentu dan sudah pasti bahwa setiap kalimat yang meresahkan banyak kalangan memiliki maksud dan tujuan. Faktor yang paling utama dari setiap pandangan dari banyak kalangan terhadap statemen tersebut lebih mengarah para persiapan politik. 

Post a Comment for "Menteri Agama Yaqut Cholil Choumas Lupa Masjid"