Tugas Suci Manusia Sebagai Khalifah Fil Ardh Dan Spirit Menuju Insan Kamil - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tugas Suci Manusia Sebagai Khalifah Fil Ardh Dan Spirit Menuju Insan Kamil

TUGAS SUCI MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH FIL ARDH DAN SPIRIT MENUJU INSAN KAMIL

BAB I 

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Dalam bukunya, Man the Unknown, Dr. A. Carrel menjelaskan tentang kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat manusia. Dia mengatakan bahwa pengetahuan tentang makhluk hidup secara umum dan manusia dan khususnya belum lagi mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan lainnya. Selanjutnya ia menulis :

Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya, kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuan, filosof, sastrawan, dan para ahli di bidang kerohanian sepanjang masa ini. Tapi kita (manusia) hanya mampu mengetahui dari segi-segi tertentu diri kita, kita tidak mengetahui manusia secara utuh

Jika apa yang menjadi pendapat A. Carrel itu diterima, maka menurut M. Quraish Shihab satu-satunya jalan untuk mengenal dengan baik siapa manusia, adalah merujuk kepada wahyu ilahi, agar kita dapat menemukan jawabannya.

Pada hakekatnya manusia sama saja dengan makhluk hidup lainnya yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang meraih tujuannya dengan di dukung oleh pengetahuan dan kesadaran. Manusia dan makhluk lainnya mempunyai otak dan panca indra, tetapi otak binatang tidak bisa berfungsi membentuk persepsi, manusialah yang membentuk persepsi yang kemudian di uji coba untuk memastikan sebuah hipotesa.

Manusia memiliki keistimewaan dibanding dengan makhluk lainnya. Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna sebagaimana tersirat dalam surat At-Tiin. Meskipun demikian, manusia berpotensi atau berpeluang untuk menjadi makhluk yang paling mulia di sisi Allah atau yang paling hina yang kemudian hal ini menurut Cak Nur diibaratkan manusia seperti pisau bermata dua.

Manusia, sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, memiliki sifat fitrah (kesucian) dan hanif (cenderung kepada kebenaran). Roh manusia sejatinya pernah bersyahadat, berikrar bahwa sekali-sekali tidak akan pernah menyembah sesuatu selain Allah, dan hanya kepada-Nya lah manusia akan memusatkan seluruh orientasi kehidupannya selama selama di dunia ini. Sumpah suci yang diikrarkan setiap manusia itu di abadikan Tuhan dalam Al-Quran surat Al-Araf ayat 172.

Namun Allah SWT tidak membiarkan manusia berkata seperti itu begitu saja. Allah SWT akan menguji kebenaran janji mereka.Tujuan penciptaan manusia secara esensial diinformasikan dalam QS Adz-Zariyat ayat 56 yakni untuk selalu mengabdi dan beribadah kepada sang kreator ulung Allah SWT. Disamping itu  manusia juga mendapatkan tugas untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini. Dengan demikian manusia memiliki dua fungsi, yaitu sebagai hamba dan khalifah Allah. Dua fungsi manusia tersebut tidak harus dipisahkan, apalagi saling dihadapkan. Kemanusiaannya akan menjadi utuh ketika ia berhasil menyeimbangkan dimensi kehambaanya dan dimensi kekhalifaannya.

Dalam Kisah ketika Allah hendak menciptakan manusia pertama yaitu nabi Adam as maka menurut Cak Nur terjadi dialog tanya jawab antara malaikat dan Allah. Para malaikat mempertanyakan, mengapa manusia yang di tunjuk sebagai khalifah, padahal ia akan membuat kerusakan di muka bumi dan banyak menumpahkan darah, sementara mereka sendriri (para malaikat), selalu bertasbih memuji Allah dan mengkuduskan-Nya. Allah menjawab bahwa dia mengetahui hal-hal yang para malaikat tidak tahu.

Kemudian Allah membekali adam dengan ilmu segala nama dari objek-objek yang ada. Lalu objek itu diketengahkan kepada para malaikat, dan Allah berfirman kepada mereka dengan maksud menguji, agar mereka menjelaskan nama objek-objek itu. Para malaikat tidak sanggup, dan mengaku tidak mengetahui apa-apa kecuali yang diajarkan Allah kepada mereka. Kemudian Allah memerintahkan adam untuk menjelaskan nama objek-objek itu, dan adam pun melakukannya dengan baik. Maka Allah berfirman kepada malaikat, menegaskan bahwa Dia mengetahui hal-hal yang mereka tidak ketahui.

Hal ini menjelaskan bahwa dari awal salah satu esensi penciptaan manusia adalah untuk menjadi khalifah fil ardh. Artinya bahwa seluruh isi bumi ini di percayakan oleh Allah kepada manusia untuk menjaga dan memakmurkannya untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Meskipun demikian, banyak sekali manusia yang sudah keluar dari jalur koridor esensi awal tujuan manusia diciptakan. Sudah tidak berpegang teguh pada Al quran dan Sunnah, mereka mulai meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya tentang hakekat manusia dalam pandangan Al Quran. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis bermaksud untuk membahasnya agar dapat saling mengingatkan sebagai sesama manusia dalam bentuk makalah yang diberi judul “TUGAS SUCI MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH FIL ARDH DAN SPIRIT MENUJU MUSLIM INSAN KAMIL.

B.  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pandangan Al-Quran tentang Manusia ?
  2. Bagaimana esensi manusia sebagai khalifah fil ard ?
  3. Bagaimana cara menuju muslim Insan Kamil ? 

C.  Tujuan 

  1. Untuk mengetahui bagaimana pandangan Al-Quran tentang Manusia ?
  2. Untuk mengetahui bagaimana esensi manusia sebagai khalifah fil ard ?
  3. Untuk mengetahui bagaimana cara menuju muslim Insan Kamil? 


BAB II 

PEMBAHASAN


Manusia Dalam Pandangan Al-Quran

Di dalam Al-Quran terdapat 3 kata yang biasa digunakan untuk diartikan sebagai manusia, yaitu (a) menggunakan kata yang terdiri dari alif, nun dan sin seperti ins, al-insan, al-Nas, unas; (b) kata basyar; (c) menggunakan kata bani Adam dan Zuriyat Adam

Kata Al-Insan disebut sebanyak 73 kali dalam Al-Quran dan tersebar dalam 43 surah. Secara etiomologis kata al-insan dapat diartikan harmonis, lemah, lembut, tampak atau pelupa. Kata al-insan menunjukan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Ali Syariati menjelaskan hakekat manusia sebagai al-insan sebagai tipe yang memiliki karakteristik khusus yang berlainan antara satu dengan orang lainnya sesuai dengan tingkatan realitas atau esensinya. Jadi, bila kita menyebut insan kita tidak memaksudkannya sebagai seluruh manusia yang ada di muka bumi ini. Jadi tidak semua makhluk adalah insan, namun mereka memiliki potensialitas bergerak prosen menuju insan.

Sementara term al-nas dinyatakan dalam Al-Quran sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 surah. Al-nas menunjukan pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara umum dan keseluruhan tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya.

Sedangkan hakekat manusia dengan ungkapan bani adam dijumpai dalam Al-Quran sebanyak 7 kali dan tersebar di 3 surah. Secara arti kata, bani adam menunjukan pada keturunan nabi Adam. Menurut Allamah al-Thabatbai penggunaan bani adam menunjukan pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini setidaknya ada 3 aspek yang dikaji, yaitu: pertama, anjuran untuk berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, diantaranya dengan berpakaian guna menutup auratnya. Kedua, mengingatkan kepada semua keturunan adam agar jangan terjerumus pada bujuk rayu setan yang mengajak pada keingkaran. Ketiga, memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam rangka beribadah dan mentauhidkan-Nya. 

Esensi Manusia Sebagai Khalifah Fil Ardh

Merujuk pada ketentuan normatik pada QS. 2:30-36 maka status dasar manusia adalah khalifah. Secara bahasa, kata khalifah berasal dari bahasa arab yang berarti orang yang datang kemudian atau dibelakang. Maka dari itu, digunakan dalam makna pengganti atau wakil (Inggrisnya;vicegerent). Kata khalifah dalam bentuk tungal terulang dua kali dalam Al-Quran yaitu dalam QS. 2:30 dan QS. 28:26. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud khalifah adalah pengganti Allah dimuka bumi, dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya kepada segenap umat manusia. Jika manusia menjadi khalifah Allah, bukan berarti manusia itu sama kedudukannya dengan Allah. Pengertian pengganti disini harus di artikan bahwa manusia diangkat oleh Allah untuk menjadi Khalifah-Nya dimuka bumi ini dengan perintah tertentu, dan untuk menghilangkan kemusyrikan didalam hati nurani manusia itu sendiri.

Dalam kacamata sufi, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan manusia sangat istimewa sehingga ia menjadi khalifah. Pertama, manusia merupakan tujuan akhir penciptaan tuhan. Kedua, manusia sebagai mikro kosmos dan ketiga, manusia sebagai cermin tuhan. 

Berkenaan dengan yang pertama, didalam sebuah hadits Qudsi. Ada pernyataan "kalau bukan karenamu, tidak akan kuciptakan alam semesta ini. Walaupun ini menjadi kawan bicara adalah Nabi Muhammad Saw, bagi Ibn Arabi, ini bisa juga diterapkan kepada manusia karena nabi Muhammad merupakan simbol par excellence dari manusia yang telah mencapai tingkat kesempurnaan. Dengan pengertian ini kita bisa menyimpulkan, manusia adalah tujuan akhir (reason d'etre) daripenciptaan alam. Manusia diciptakan diujung proses evolusi agar manusia bisa mencapai tingkat kesempurnaan penuh. Manusia sangat dimungkinkan untuk memilik semua daya dan kecakapan yang dimiliki oleh makhluk-makhluk lain yang mendahuluinya, sehingga dialah yang tercanggih dan terunggul dari semua makhluk yang ada.

Kedua, manusia sebagai mikrokosmos (dunia kecil) karena manusia memiliki semua daya atau kekuatan yang terkandung dalam unsur-unsur yang berbeda dari alam kosmos itu. Manusia mengandung unsur mineral termasuk materi, sedangkan materi mengandung atom-atom dengan segala ddayanya  jadi manusia memiliki daya-daya atomik. Dalam diri manusia juga ada unsur nabati (tumbuh-tumbuhan) dan unsurhewani. Yang terpenting adalah manusia  juga memiliki apa yang disebut ibn sina sebagai sebagai indra-indra batin.

Ketiga, manusia sebagai cermin tuhan mengandung arti bahwa secara potensial manusia mampu merefleksikan atau memantulkan seluruh sifat ilahi. Secara biologis saja manusia telah memiliki kelebihan-kelebihan yang sangat mengesankan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Meskipun demikian, perlu segera disadari bahwa kelebihan manusia yang sebenarnya terletak pada aspek spiritualnya, yang padanya sifat-sifat dan bahkan tindakan-tindakan tuhan yang dapat dipantulkan secara lebih sempurna. Setidaknya karena tiga hal ini manusia pantas ditempatkan sebagai khalifah dimuka bumi. yang kemudian menurut hemat penulis sebagai Tugas Suci manusia sebagai khalifah fill ardh. Sebagai duta Tuhan, manusia berkewajiban untuk menyempurnakan bumi sesuai dengan pola-pola yang telah ditetapkan Tuhan dalam kitab sucinya.

Sedangkan menurut Cak Nur, makna penunjukan manusia, dimulai dengan adam, sebagai khalifah Allah di bumi, dimana ia harus meneruskan ciptaan Allah di planet ini dengan mengurusnya dan mengembangkannya sesuai dengan mandat yang telah diberikan Allah.

Manusia mempunyai peran yang ideal yang harus dijalankan yakni memakmurkan bumi, mendiami dan memelihara serta mengembankannya demi kemaslahatan hidup mereka sendiri, bukan melakukan kerusakan dan eksploitasi yang dapat merusak tata nilai lingkungan dan peradaban. 

Menurut Umar Sulaiman jika khalifah diartikan sebagai makhluk pengemban amanah dan ajaran Allah SWT, maka peran yang dilakukan adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan sekaligus menjadi pelopor dalam membumikan dan mengaktualkan ajaran Allah di atas bumi.

Kewajiban untuk memakmurkan, mengelola bumi merupakan sebuah tanggung jawab yang tidak boleh di abaikan. Karena mengabaikan tanggung jawab pengelolaan bumi merupakan sebuah bentuk pengingkaran konsep amanah yang telah di embankan kepada manusia.

Kata amanah mengangdung ketaatan dan kepatuhan kepada Allah, baik yang bersifat alamiah, tanpa pilihan, maupun ikhtiariah yang didalamnya ada pilihan berbuat sebaliknya. Maksud ditawarkan amanah dalam QS. 33:72 adalah pribadi yang mempunyai kebebasan di minta untuk melakukannya, sementara dari benda-benda atau makhluk yang lain tidak mempunyai kebebasan dan hanya dikehendaki ketaatan mutlak. Jadi, benda-benda yang kelihatan kuat itu tidak mau atau tidak dapat mengkhianati kehendak Allah yang berlaku atas mereka, yakni ketaatan kepada-Nya secara alamiah, sedangkan manusia mempunyai kemampuan untuk memenuhi atau tidak memenuhi.

Sementara Al-Baidawi sebagaimana dikutip machasin menafsirkan kata amanah dengan akal dan taklif, yakni pembebanan kewajiban-kewajiban keagamaan. Penawaran amanah dengan pengertian ini kepada benda-benda itu berarti dilihatnya itu dari segi kesiapan bawaan untuk menerima akal dan taklif. Manusialah yang mempunyai kesiapan untuk itu. Akan tetapi, selain kemampuan itu, tersimpan dalam dirinya daya amarah dan syahwat yang sering kali menguasainya.

Analisis diatas menghasilkan asumsi bahwa amanah dipahami sebagai sebuah kepercayaan dalam arti titipan atau limpahan wewenang yang diberikan kepada seseorang dengan harapan bahwa ia akan menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Manusia dianggap sebagai khalifah tidak akan menjunjung tinggi tanggung jawab kekhalifaannya tanpa dilengkapi dengan potensi-potensi yang memungkinkannya mampu melaksanakan tugasnya. Dalam hal ini M. Quraish Shihab mengemukakan beberapa potensi yang dimiliki manusia dalam kapasitasnya sebagai khalifah, Yaitu :

Kemampuan untuk mengetahui sifat, fungsi dan kegunaan segala macam benda. Melalui potensi ini manusia dapat menemukan hukum-hukum dasar alam semesta, menyusun konsep, mencipta, mengembankan dan mengemukakan gagasan untuk melaksanakannya serta memiliki pandangan menyeluruh terhadapnya.

Pengalaman selama berada disurga, baik manis seperti kedamaian dan kesejahteraan, maupun yang pahit seperti keluarnya adam dan hawa dari surga akibat terbujuk oleh rayuan setan. Pengalaman ini amat berharga dalam menghadapi rayuan setan didunia. Sekaligus peringatan bahwa jangankan yang belum masuk surga, yang sudah masuk surgapun, bila mengikuti rayuan setan akan di usir dari surga .

Tuhan telah menaklukan dan memudahkan alam semesta ini untuk di olah manusia.penaklukan yang tidak mungkin dilakukan manusia sendiri. Perlu digaris bawahi bahwa kemudahan dan penaklukan tersebut bersumber dari Allah. Dengan demikian, manusia dan seluruh isi alam semesta itu mempunyai kedudukan yang sama dari sisi ketundukan (penghambaaan) kepada Allah.

Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia selama berada dibumi.

Sebagai duta Tuhan, manusia akan diminta pertanggung jawaban dihadapan tuhan tentang bagaimana ia melaksanakan tugas kekhalifaannya. Untuk itu Manusia harus senantiasa memperhatikan amal perbuatannya. Kewajiban untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab merupakan titik mula moralitas manusia, dan membuatnya sebagai makhluk moral, yakni makhluk yang selamanya dituntut untuk mempertimbangkan kegiatan hidupnya dalam kriteria baik dan buruk.

Implikasi lebih jauh dari kekhalifaan manusia adalah manusia harus dapat mengelola dan memanfaatkan alam. Tugas ini hanya dapat dilakukan apabila manusia dapat memiliki ilmu pengetahuan dan memahami dengan baik sunatullah yang berlaku pada alam. Proses memahami alam bukan hal yang sulit karena: pertama, manusia memiliki potensi akal yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Kedua, alam diciptakan tuhan dengan "ukuran-ukuran" dan "ketentuan-ketentuan" yang pasti dan tidak berubah-ubah sehingga sampai pada batas yang amat jauh bersifat "predictable". Dari sini manusia dapat melakukan rekayasa alam dan memanfaatkan untuk keperluannya. Ketiga, tuhan telah menjadikan alamlebuh rendah martabatnyaDari pada manusia sendiri. Sebagai konsekuensinya, manusia harus mampu menundukkan alam, bukan sebaliknya.

Bagaimana semestinya manusia melakukan tugas-tugas kekhalifaan tersebut agar berhasil dengan baik? Menurut Cak Nur, manusia sebagai makhluk tertinggi dan yang paling berkuasa sebagai khalifah Tuhan dibumi, harus terlebih dahulu memahami lingkungan alam hidupnya. Tegasnya, ia harus mampu memahami dunia dan segala isinya. Dalam proses pemahaman tersebut, ia harus memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Selanjutnya manusia juga harus memahami lingkungan manusiawinya. Manusia perlu memahami sejarah yang sarat dengan nilai yang terkait langsung dengan moralitas; kebaikan membawa pada kesejahteraan dan kejahatan membawa pada kesengsaraan. Jadi, manusia dapat mengetahui hakikat dirinya dari telaah terhadap sejara, khususnya mengenai hukum-hukum moral. Melalui sejarah pula ia harus berjuang membebaskan diri dan meningkatkan harkat serta martabatnya dengan berusaha mewujudkan kualitas hidup menuju tingkat yang lebih dekat dengan tingkatan tertinggi moralitas dan akhlak.

Dalam menjalankan tugas-tugas kekhilafannya, manusia menghadapi berbagai rintangan, dan godaan, baik yang bersumber dari dirinya karena kelemahannya sendiri maupun yang berasal dari luar, kesemuannya itu harus dapat ddilakuinya manusia harus selalu mempertajam keimanan dan mengasahnya dengan memahami serta mendalami segala bentuk informasi yang diperluakannya, terutama informasi dari ajaran-ajaran agama.

Dalam hubungannya dengan alam semesta, manusia harus mengembankan dua hal penting. Pertama, ilmu pengetahuan yang ia bangun dan rumuskan sendiri. Alam tidak mungkin bisa dimanfaatkan tanpa keberadaan ilmu pengetahuan. Mengonstruksi ilmu pengetahuan tidak sulit karena alam riil dan objektif. Alam memiliki hukumnya tersendiri yang disebut sunatullah. Manusia hanya dituntut menemukan hukum-hukum tersebut.

Selain memahami dan  menguasai alam, manusia juga harus bisa memahami manusia serta rrelasi-relasinya khususnya antar individu ataupun antar komunitas. Oleh karena itu, manusiapun membutuhkan ilmu sosial, jika alam semesta diatur oleh hukum alam, realitas sosial diatur oleh hukum-hukum sosial yang juga sangat dinamis.

Alam semesta ini sesungguhnya telah ditundukan Allah untuk manusia, oleh sebab itu, alam tidak boleh dilekatkan dengan kualitas-kualitas ketuhanan. Tidak boleh ada sakralisasi pada alam, dengan bahasa lain alam tidak boleh didekati dengan iman. Alam harus didekati dengan ilmu pengetahuan.

Kesuksesan manusia mengemban tugas-tugas kekhalifaannya akan sangat ditentukan oleh kemampuannya mengelola alam dan mengendalikan kehidupan sosial. Sang khalifah harus senantiasa memohon kepada Allah SWT. Agar tugasnya memakmurkan bumi dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Spirit Manusia Menuju Insan Kamil

Secara etimologis Insan Kamil berarti manusia sempurna (perfect man). Dalam pengertian terminologis seperti yang berkembang dalam ilmu tasawwuf, insan kamil dipahami sebagai manusia yang telah dapat mencerminkan nama-nama dan sifat-sifat tuhan secara sempurna. Karena itu, Tuhan dapat melihat citra diri-Nya secara utuh. Peringkat ini dapat dicapai seseorang setelah dirinya menjadi manifestasi sempurna dari hakikat muhammad sebagai wadah tajali (penampakan) Tuhan yang paripurna.

Menyimak pemikiran para filsuf dan sufi tentang insan kamil (manusia sempurna), kelihatannya konsep sempurna sangat utopis, hanya ada dalam taraf ide dan sulit direalisasikan. Namun tidak demikian sempurna itu sebuah konsep yang memiliki gradasi. Diatas sempurna ada yang lebih sempurna. sehingga konsepsi Insan Kamil juga dipahami sebagai manusia menyempurna: sempurna dan semakin sempurna. Bagaimana dengan makhluk-Nya, adakah Puncak dari Kesempurnaan pada Ciptaan-Nya? Apakah ada manusia sempurna apakah terlalu utopis jika ada yang namanya manusia sempurna ?

Tuhan maha adil. Dia tidak bersifat omong kosong. Tuhan tidak sekedar berteori. Ketika berfirman tentang nilai-nilai kesucian dan kesempurnaan, dia juga menumbuhkan dibumi sosok-sosok untuk menyampaikan serta menjadi teladan tentang kesucian dan kesempurnaan. 

Manusia insan kamil adalah manusia sejati yang berhasil memerankan dirinya secara baik, sebagai abdun dan khalifah. Manusia sejati yang menjalani hidup sesuai dengan fitrahnya juga tidak akan mengalami keterpecahan pribadi. Tidak ada dikotomi dalam dirinya. Dalam konsepsi kehidupannya, dunia dan akhirat bukan dua entitas yang berbeda, apalagi berhadap-hadapan.

Seorang manusia sejati (Insan Kamil) ialah yang kegiatan mental dan fisiknya merupakan suatu keseluruhan. Kerja jasmani dan ketja rohani bukanlah dua kenyataan yang terpisah. Malahan dia tidak mengenal perbedaan antara kerja dan kesenangan; kerja baginya adalah kesenangan dan kesenangan ada dalam dan melalui dunia kerja. Dia berkepribadian, merdeka, memiliki dirinya sendiri, menyatakan ke luar corak perorangannya, dan mengembang kepribadian dan wataknya secara harmonis. Dia tidak mengenal perbedaan antara kehidupan individu dan kehidupan komunal, tidak membedakan antara dia sebagai perorangan dan sebagai anggota masyarakat. Hak dan kewajiban serta kegiatan-kegiatan untuk dirinya adalah juga sekaligus untuk sesama umat manusia. Baginya tidak ada pembagian dua antara kegiatan-kegiatan rohani dan jasmani, pribadi dan masyarakat, agama dan politik ataupun dunia akhirat. Kesemuannya di Manifestasikan dalam suatu kesatuan kerja yang tunggal pancaran niatnya, yaitu mencari kebaikan, keindahan dan kebenaran.

Insan kamil adalah jenis manusia yang hidup dengan nilai-nilai ilahiyah (man of values). Cinta, hikmah, intelektual, kebebasan, pelayanan, penyembahan, tanggung jawab dan sebagaiannya; masing-masing ini merupakan nilai. Proses menjadi insan kamil memiliki tahapan-tahapan yang panjang untuk mencapainnya. Siapakah manusia Sempurna? bisakah kita menjadi manusia sempurna (insan kamil)? Untuk menjadi muslim Insan Kamil harus memulai berusaha mengikuti secara teliti kehidupan nabawi dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari yang harus dibangun secara seimbang dan totalitas hidup. Ini hanya bisa dilakukan jika manusia mengikuti pola-pola yang telah ditetapkan Tuhan.

BAB III 

PENUTUPAN

A.  Kesimpulan

Di dalam Al-Quran terdapat 3 kata yang biasa digunakan untuk diartikan sebagai manusia, yaitu (a) menggunakan kata yang terdiri dari alif, nun dan sin seperti ins, al-insan, al-Nas, unas; (b) kata basyar; (c) menggunakan kata bani Adam dan Zuriyat Adam

kata khalifah berasal dari bahasa arab yang berarti orang yang datang kemudian atau dibelakang. Maka dari itu, digunakan dalam makna pengganti atau wakil (Inggrisnya;vicegerent). khalifah adalah pengganti Allah dimuka bumi, dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya kepada segenap umat manusia. khalifah diartikan sebagai makhluk pengemban amanah dan ajaran Allah SWT, maka peran yang dilakukan adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan sekaligus menjadi pelopor dalam membumikan dan mengaktualkan ajaran Allah di atas bumi.

Manusia insan kamil adalah manusia sejati yang berhasil memerankan dirinya secara baik, sebagai abdun dan khalifah. Seorang manusia sejati (Insan Kamil) ialah yang kegiatan mental dan fisiknya merupakan suatu keseluruhan. Kerja jasmani dan kerja rohani bukanlah dua kenyataan yang terpisah. Malahan dia tidak mengenal perbedaan antara kerja dan kesenangan; kerja baginya adalah kesenangan dan kesenangan ada dalam dan melalui dunia kerja. Dia berkepribadian, merdeka, memiliki dirinya sendiri, menyatakan ke luar corak perorangannya, dan mengembang kepribadian dan wataknya secara harmonis. Dia tidak mengenal perbedaan antara kehidupan individu dan kehidupan komunal, tidak membedakan antara dia sebagai perorangan dan sebagai anggota masyarakat. Hak dan kewajiban serta kegiatan-kegiatan untuk dirinya adalah juga sekaligus untuk sesama umat manusia. Baginya tidak ada pembagian dua antara kegiatan-kegiatan rohani dan jasmani, pribadi dan masyarakat, agama dan politik ataupun dunia akhirat. Kesemuannya di Manifestasikan dalam suatu kesatuan kerja yang tunggal pancaran niatnya, yaitu mencari kebaikan, keindahan dan kebenaran.

Untuk menjadi muslim Insan Kamil harus memulai berusaha mengikuti secara teliti kehidupan nabawi dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari yang harus dibangun secara seimbang dan totalitas hidup. Ini hanya bisa dilakukan jika manusia mengikuti pola-pola yang telah ditetapkan Tuhan. 

B.  Saran

Dalam rangka meningkatkan peran esensi ajaran Islam tentang khalifah fil ardh diperlukan adanya sinergi dari semua kalangan untuk saling bahu-membahu dan terus menerus mengingatkan tentang pentingnya mengetahui esensi manusia sebagai khalifah fil ardh agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang bisa membawa kita kepada Neraka. Sebaiknya  para  membaca  harus  memahami  dirinya  sebagai  khalifah sehingga dapat mengimplementasikan kebenaran ilmu pengetahuan yang menopang terlaksananya tugas dan fungsinya sebagai Khalifah Fil Ardh secara optimal dalam kehidupan sehari-harinya.

Diharapkan  para  pembaca  dapat  mengimplementasikan  tujuan  akhir  dari esensi manusia sebagai Khalifah Fil Ardh untuk berusaha menjadi manusia muslim yang paripurna dalam konsep al-insan dan al-kamil.

DAFTAR PUSTAKA

Munawar, Budhy Rahman. 2011. Membaca Nurcholish Majid, Islam dan Pluralisme. Jakarta: Democary Project.

Muniruddin, Said. 2014. Bintang Arasy: Tafsir Filosofis-Gnostik Tujuan HMI. Banda aceh: Syiah Kuala University Press.

Pengurus Besar HMI. 2015. NDP HMI. Jakarta:Yayasan Bina Insan Cita

Saputra, Bambang. 2017. Seni BerTuhan. Jakarta: Amzah

Sulaiman, Umar. 2012. Islam Kosmopolit: Ikhtiar Pembumian Nilai-Nilai Transenden-Humanis di Ruang Publik. Yogyakarta: Freshbooks

Shihab, M. Quraish. 1996. Wawasan Al-Quran. Bandung: Mizan

Tarigan, Azhari Akmal. 2007. Islam Mazhab HMI: Tafsir Tema Besar Nilai Dasar Perjuangan. Ciputat: Kultura (GP Press Group)

Tarigan, Azhari Akmal. 2017. Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI: Teks, Interpretasi, dan Kontekstualisasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media 

Post a Comment for "Tugas Suci Manusia Sebagai Khalifah Fil Ardh Dan Spirit Menuju Insan Kamil"