HMI Sebagai Solusi Alternatif dalam Menjawab Tantangan Indonesia Emas 2045 - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HMI Sebagai Solusi Alternatif dalam Menjawab Tantangan Indonesia Emas 2045

HMI  SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF DALAM MENJAWAB TANTANGAN INDONESIA EMAS 2045


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Mission merupakan tugas dan tanggung jawab yang diemban, sehingga mission HMI dapat diartikan sebagai tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh kader HMI. Sebagai organisasi kader yang memiliki platform yang jelas, sejak awal berdirinya HMI mempunyai komitmen asasi yang disebut dengan dua komitmen asasi, yakni (1) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat bangsa Indonesia, yang dikenal dengan komitmen kebangsaan, dan (2) Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam, yang dikenal dengan wawasan keislaman/keumatan. Kesatuan dari kedua wawasan ini disebut dengan wawasan integralistik, yakni cara pandang yang utuh melihat bangsa Indonesia terhadap tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan sebagai warga negara dan umat Islam Indonesia. Penerjemahan komitmen HMI ini disesuaikan dengan konteks jaman, sehingga HMI selalu aktual dan mampu tampil di garda terdepan dalam setiap even.

Bila dicermati belakangan ini bisa dikatakan bahwa HMI mengalami stagnasi, untuk tidak dikatakan degradasi. Hampir tidak ada gagasan cerdas yang disumbangkan oleh HMI di tengah carut marut dan tunggang langgangnya tatanan republik ini, dimana masalah disintegrasi perlu segera diatasi, masalah ekonomi mendesak untuk segera diperbaiki, masalah supremasi hukum yang harus ditegakkan, masalah pendidikan mendesak untuk diperhatikan, dan masalah-masalah lain yang melingkari, seperti budaya, pertahanan keamanan, yang kesemuanya membutuhkan penanganan secepatnya. Singkatnya, Indonesia sekarang sedang diterma krisis multi dimensional. 

Ditengah kondisi ini, komitmen HMI tidak lebih dari sebatas slogan tanpa jiwa  Oleh sebab itu untuk mendongkrak kembali ghirah kader HMI dalam berperan serta untuk penyelesaian problematika bangsa dan umat perlu adanya reaktualisasi mission HMI dalam jiwa kader HMI melalui proses perkaderan yang selama ini perjalanannya tidak lebih hanya sebagai proses pencapaian status dengan meninggalkan makna sesungguhnya, yaitu sebagai proses pembentukan kader yang memiliki karakter, nilai dan kemampuan, yang berusaha melakukan transformasi watak dan kepribadian seorang muslim yang utuh (kaffah), sehingga kader HMI memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (mustad’afin) dan melawan kaum penindas (mustakbirin).

HMI sebagai organisasi berbasis mahasiswa yang merupakan kaum intelektual, generasi kritis, dan memiliki profesionalisme harus mampu menjadi agen pembaharu di tengah masyarakat dan kehidupan bangsa. Karena mahasiswa memiliki kekuatan yang luar biasa dalam tatanan kehidupan bangsa dan negara, maka seluruh gerak perubahan yang terjadi di bangsa ini dimotori oleh kelompok mahasiswa dan pemuda, mulai dari proklamasi, revolusi, hingga reformasi, selalu ada andil mahasiswa. Namun demikian arah perubahan harus sesuai dengan usaha untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT sebagaimana termaktub dalam penggalan tujuan HMI.

Dalam perjalanannaya, gerakan mahasiswa begitu dinamis, mengikuti perkembangan jaman dan selalu eksis dalam setiap momen penting kebangsaan. Kekonsistenan itu harus diiringi oleh pegangan yang teguh terhadap idealisme dan menjaga sikap hanif sehingga kehadiran mahasiswa sebagai kaum intelektual yang dalam tatanan sosial masyarakat mendapat tempat yang penting sebagai embun penyejuk. Untuk itulah HMI sebagai organisasi mahasiswa harus mampu menetaskan kader-kader yang berkualitas insan cita sebagaimana yang tersurat dalam tujuan HMI “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI).

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan dari pemaparan di atas ,penulis merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut

  1. Apa yang di maksud dengan MISION HMI?
  2. Bagaimana cara kader HMI dapat menyikapi Tujuan HMI?
  3. Bagaimana cara kader HMI dapat menjalankan misi yang di emban?
  4. Bagaimana cara kader HMI menjawab tantangan zaman generasi emas 2045?

C. TUJUAN PENULISAN

Memberikan pandangan kepada keder HMI apa yang di maksud dengan Tujuan HMI yang tertuan Dalam MISION HMI

  1. Sebagai refrensi kader dalam menyikapi 5 ( Lima ) Kwalitas Insan Cita
  2. Memberikan pandangan untuk menjawab tantangan zaman gerasi emas 2045

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakekat Keberadaan HMI

HMI sebagai Organisasi Mahasiswa (pasal 7 AD HMI)

Makna HMI sebagai organisasi mahasiswa adalah organisasi yang menghimpun mahasiswa yang menuntut ilmu pengetahuan di perguruan tinggi (Universitas/Akademi/Institut/Sekolah Tinggi) atau yang sederajat, dan memilki ciri-ciri kemahasiswaan. Adapun ciri-ciri kemahasiswaan tersebut adalah ilmiah, kritis dan analitis, rasional, obyektif, serta sistematis.

HMI sebagai Organisasi berasaskan Islam (pasal 3 AD HMI)

HMI sebagai organisasi berasaskan Islam maksudnya adalah organisasi yang menghimpun mahasiswa yang beragama Islam, dimana secara individu dan organisatoris memiliki ciri-ciri keislaman, menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber norma, sumber nilai, sumber inspirasi, dan sumber aspirasi dalam setiap aktivitas dan dinamika organisasi.

HMI sebagai Organisasi yang Bersifat Independen (pasal 6 AD HMI)

HMI yang bersifat independen adalah waktak organisasi yang selalu tunduk danberorientasi pada kebenaran (hanif), sehingga kiprah setiap individu dan dinamika organisasi dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mempunyai pola pikir, pola sikap, dan pola tindak tidak terikat dan tidak mengikatkan diri secara organisatoris dengan kepentingan atau organisasi mana pun, segala sesuatu tidak didasarkan atas kehendak atau paksaan pihak lain.Independensi dilihat dari dua dimensi, yakni :1) Indepndensi Etis : Sikap dan watak HMI yang termanifestasikan secara individu dan organisasi dalam dinamika berfikir, bersikap, dan bertindak, baik dalam hubungan terhadap Sang Rab, ataupun hubungan terhadap sesama, sesuai dengan fitrah kemanusiaannya, yakni tunduk dan patuh kepada kebenaran (hanif). 2) Independensi Organisatoris : Sikap dan watak HMI yang teraktualisasikan secara organisatoris di dalam kiprah dinamika intern organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam keutuhan kehidupan nasional melakukan partisipasi aktif, konstruktif secara konstitusional terhadap perjuangan bangsa dan pencapaian cita-cita nasional, hanya komit kepada kebenaran, dan tidak tunduk atau komit terhadap kepentingan atau organisasi tertentu.

Prinsip-prinsip independensi HMI dalam implementasi dirumuskan sebagai berikut : 

  1. Kader HMI terutama aktivitasnya dalam melakukan tugas dan tanggung jawab organisasi harus tunduk pada ketentuan-ketentuan organisasi dalam melaksanakan program-program organisasi, oleh karena itu tidak diperkenankan melakukan kegiatan-kegiatan yang membawa organisasi atas kehendak pihak luar manapun.
  2. Kader HMI terutama aktivitasnya tidak dibenarkan mengadakan komitmen dalam bentuk apapun dengan pihak luar selain segala sesuatu yang telah ditetapkan dan diputuskan secara organisatoris. 
  3. Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk aktif berjuang meneruskan dan mengembangkan watak independensi etis dimanpun mereka berada dan berfungsi sesuai dengan profesinya dalam rangka membawa hakekat misi HMI, menganjurkan serta mendorong alumni HMI untuk menyalurkan aspirasinya secara tepat melalui semua jalur pengabdian, baik jalur organisasi profesi, instansi pemerintah, wadah aspirasi politik, dan jalur lainnya yang semata-mata karena hak dan tanggung jawab dalam rangka merealisasikan kehidupan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Aplikasi dan dinamika berfikir, bersikap dan bertindak secara keseluruhan dari watak asasi kader HMI terumus dalam bentuk : Cenderung kepada kebenaran,Bebas, merdeka dan terbuka, Obyektif, rasional, dan kritis,Progresif dan dinamis,Demokratis, jujur dan adil

B. Memahami tujuan HMI sebagai arah gerakan kader

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tujuan HMI adalah “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI). Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dalam pasal tujuan (pasal 4 AD HMI) adalah sebagai berikut :

1. Kualitas Insan Akademis

  • Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
  • Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran.
  • Sanggung berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis maupun tekhnis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.

2. Kualitas Insan Pencipta : Insan Akademis, Pencipta

  • Sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaharuan.
  • Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi, kreatifnya dapat berkembang dan menentukan bentuk yang indah-indah.
  • Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran islam.

3. Kualitas Insan Pengabdi : Insan Akdemis, Pencipta, Pengabdi

  • Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
  • Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukannya hanya membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menajdi baik.
  • Insan akdemis, pencipta dan mengabdi adalah yang bersungguh sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya.

4. Kualitas Insan yang bernafaskan islam : Insan Akademis, pencipta dan pengabdi yang ber nafaskan Islam

  • Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menajdi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah menapasi dan menjiwai karyanya.
  • Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga Negara dan dirinya sebagai muslim insan ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya dalam pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.

5. Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT :

  • Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang ber nafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
  • Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.
  • Spontan dalam menghadapi tugas, responsip dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis.
  • Rasa tanggungjawab, takwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam me wujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
  • Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
  • Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai“khallifah fil ard” yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan. Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “Man of future” insan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara kooferatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. Ideal type dari hasil perkaderan HMI adalah “man ofinovator” (duta-duta pembantu). Penyuara “Idea of Progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah SWT. Mereka itu manusia-manusia uang beriman berilmu dan mampu beramal saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil)

Dari lima kualitas lima insan cita tersebut pada dasarnya harus memahami dalam tiga kualitas insan Cita yaitu kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta dan kualitas insan pengabdi. Ketiga insan kualitas pengabdi tersebut merupakan insan islam yang terefleksi dalam sikap senantiasa bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang ridhoi Allah SWT.

Yang dimaksud dengan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT adalah masyarakat yang menjalankan kehidupannya selalu berlandaskan atas asas keadilan sehingga tercapai kemakmuran dan dalam perjalanan pencapaian masyarakat adil makmur tersebut tidak mendobrak aturan Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an sehingga adil makmur yang dicapai oleh masyarakat merupakan adil makmur yang dikehendaki oleh Allah SWT. Jadi setiap usaha dalam pencapaian masyarakat adil makmur harus berpedoman pada ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

C. Fungsi dan peran hmi dalam menjawab tantangan indonesia emas 2045

Status HMI sebagai organisasi mahasiswa memberi petunjuk dimana HMI berspesialisasi. Dan spesialisasi tugas inilah yang disebut fungsi HMI. Kalau tujuan menunjukkan dunia cita yang harus diwujudkan maka fungsi sebaliknya menunjukkan gerak atau kegiatan (aktifitas) dalam mewujudkan (final gool). Dalam melaksanakan spesialisasi tugas tersebut, karena HMI sebagai organisasi mahasiswa maka sifat serta watak mahasiswa harus menjiwai dan dijiwai HMI. Mahasiswa sebagai kelompok elit dalam masyarakat pada hakikatnya memberi arti bahwa ia memikul tanggung jawab yang benar dalam melaksanakan fungsi generasinya sebagai kaum muda terdidik harus sadar akan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan ke masa depan. Karena itu dengan sifat dan wataknya yang kritis itu mahasiswa dan masyarakat berperan sebagai "kekuatan moral"atau moral force yang senantiasa melaksanakan fungsi "sosial control". Untuk itulah maka kelompok mahasiswa harus merupakan kelompok yang bebas dari kepentingan apapun kecuali kepentingan kebenaran dan obyektifitas demi kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan ke masa depan. Dalam rangka penghikmatan terhadap spesialisasi kemahasiswaan ini, akan dalam dinamikanya HMI harus menjiwai dan dijiwai oleh sikap independen. 

Mahasiswa setelah sarjana adalah unsur yang paling sadar dalam masyarakat. Jadi fungsi lain yang harus diperankan mahasiswa adalah sifat kepeloporan dalam bentuk dan proses perubahan masyarakat. Karenanya kelompok mahasiswa berfungsi sebagai duta-duta pembaharuan masyarakat atau "agen of social change". Kelompok mahasiswa dengan sikap dan watak tersebut di atas adalah merupakan kelompok elit dalam totalitas generasi muda yang harus mempersiapkan diri untuk menerima estafet pimpinan bangsa dan generasi sebelumnya pada saat yang akan datang. Oleh sebab itu,  fungsi kaderisasi mahasiswa sebenarnya merupakan fungsi yang paling pokok. Sebagai generasi yang harus melaksanakan fungsi kaderisasi demi perwujudan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat, bangsa dan negaranya di masa depan maka kelompok mahasiswa harus senantiasa memiliki watak yang progresif dinamis dan tidak statis. 

Mereka bukan kelompok tradisionalis akan tetapi sebagai "duta-duta pembaharuan sosial" dalam pengertian harus menghendaki perubahan yang terus menerus kearah kemajuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran. Oleh sebab itu mereka selalu mencari kebenaran dan kebenaran itu senantiasa menyatakan dirinya serta dikemukakan melalui pembuktian di alam semesta dan dalam sejarah umat manusia. Karenanya untuk menemukan kebenaran demi mereka yang beradab bagi kesejahteraan umat manusia maka mahasiswa harus memiliki ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh nilai kebenaran dan berorientasi pada masa depan dengan bertolak dari kebenaran Illahi. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran demi mewujudkan beradaban bagi kesejahteraan masyarakat bangsa dan negara maka setiap kadernya harus mampu melakukan fungsionalisasi ajaran Islam. 

Watak dan sifat mahasiswa seperti tersebut diatas mewarnai dan memberi ciri HMI sebagai organisasi mahasiswa yang bersifat independen. Status yang demikian telah memberi petunjuk akan spesialisasi yang harus dilaksanakan oleh HMI. Spesialisasi tersebut memberikan ketegasan agar HMI dapat melaksanakan fungsinya sebagai organisasi kader, melalui aktifitas fungsi kekaderan. Segala aktifitas HMI harus dapat membentuk kader yang berkualitas dan komit dengan nilai-nilai kebenaran. HMI hendaknya menjadi wadah organisasi kader yang mendorong dan memberikan kesempatan berkembang pada anggota-anggotanya demi memiliki kualitas seperti ini agar dengan kualitas dan karakter pribadi yang cenderung pada kebenaran (Hanief) maka setiap kader HMI dapat berkiprah secara tepat dalam melaksanakan pembaktiannya bagi kehidupan bangsa dan negaranya.

Tertuang dalam Pedoman Pengader, makna dari Pengader Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) adalah sosok dengan kepribadian yang utuh, sebagai pendidik, pemimpin, dan pejuang. Dengan demikian, setiap insan pengader HMI terlibat dalam proses idealisasi menuju citra diri, yang dalam aktifitas dan peranannya senantiasa di usahakan untuk merealisasikannya. Artinya dalam sosok diri seorang pengader di perlukan representasi dari 4 karakteristik nilai standar ideal pengader; yakni Muabid, Mujtahid, Mujahid dan Mujadid. Artinya, dari keempat nilai yang ada tersebut di anggap sudah merepresentasikan sosok ideal dalam diri pengader yang seharusnya ada dalam dirinya.

   1. Imaji Masa Depan Indonesia

“Indonesia tahun 2045 telah mampu keluar dari ancaman negara gagal. Pada waktu itu, Indonesia telah menjadi negara industri yang cukup maju dengan struktur ekonomi belah ketupat. Jumlah kelas menengah sudah lebih besar dibandingkan jumlah penduduk miskin maupun konglomerat”.

Itulah salah satu kesimpulan Indonesia 2045 dalam Skenario Sungai yang di susun Tim Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). 

Indonesia Tahun 2045 saat 100 Tahun Indonesia merdeka dalam visi besar menuju masa depan yang lebih baik, di tambah dengan fakta bahwa tahun 2030 hingga 2035 Indonesia akan mengalami situasi puncak dari Bonus Demografi yakni keadaan dimana jumlah angkatan tenaga kerja produktif lebih banyak di bandingkan angkatan kerja tua lanjut usia. Artinya, peran pekerja usia muda akan memebanjiri pasar dunia di tengah daya saing ekonomi kreatif pada tahun 2035. Hal tersebut dapat menjadi batu loncatan Indonesia untuk berdaya saing dengan negara lain.

Disaat Indonesia mengalami situasi puncak dari Bonus Demografi negara-negara tetangga lain wilayah Asia Tenggara dan Asia Timur mengalami defisit angkatan tenaga kerja, yaitu di dominasi dengan usia tua lanjut yang menjadi beban tanggungan bagi negara atas kelanjutan hidup mereka. Hal itu sebuah bargainning bagi pembangunan Indonesia kedepanya, perlu di persiapkan semenjak dini untuk rencana jangka panjang dalam mengeksekusi cita-cita tersebut.

Mengutip dari tulisan Boeodiono di salah satu media cetak beberapa waktu yang lalu kuncinya ada pada pembangunan Sumber Daya Manusia-nya, pembentukan gizi anak yang baik turut menjadi bagian dari perencanaan tersebut, pembentukan generasi muda yang berkarakter, bertanggung jawab, tekun dan memiliki semangat juang tinggi adalah modal besar yang perlu di persiapkan apabila ingin mengambil manfaat dari momentum Bonus Demografi tersebut. Tanpa persiapan yang matang, momentum Bonus Demografi itu hanya akan lewat sia-sia begitu saja. Bahkan akan menjadi boomerang bagi bangsa Indonesia.

   2. Insan Kader Paripurna

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 

“Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.

Pada tahapan pembentukan karakter individu inilah, penting bagi kita untuk mentransformasikan nilai Muabid, Mujahid, Mujtahid dan Mujtahid yang menjadi representasi dari karakter Insan Paripurna, sosok yang memiliki ketekunan dalam beribadah, baik ibadah yang transendental maupun ibadah sosial. sosok yang mempunyai semangat juang tinggi yang berpegang teguh pada kebenaran. Sosok yang memiliki kemampuan intelektualnya sebagai dasar mencari jawaban permasalahan kehidupan di tiap-tiap tantangan zamanya.

Terakhir sosok yang mampu menjadi pemimpin, mampu menjadi penengah dan pencari solusi di lingkungan sosialnya.Namun, setelah itu ketika dirinya telah mampu menyerap dan menterjemahkan nilai tersebut kepada dirinya ia memiliki peran dan tanggung jawab untuk membagikannya kepada orang lain sehingga apa yang ia miliki tidak hanya ia nikmati oleh dirinya sendiri namun dapat bermanfaat bagi kehidupan orang lain dan lingkungan sekitarnya seperti yang di maksud dari insan Mujadid.

Konsep dan sistem tersebutlah makna yang di cita-citakan dalam sosok seorang insan kader dalam Himpunan Mahasiswa Islam, seorang kader sebagai Insan Paripurna memiliki peran dan tanggung jawab untuk mentransformasikan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan dalam kitab Allah, ajaran kehidupan Nabi, dan juga Khittah Perjuangan, dan sebagainya menuju perubahan sosial di lingkunganya. Sosok kader memiliki tanggung jawab yang besar karena di dalam HMI berperan atas terjadinya regenerasi HMI untuk terus tetap ada. Selain itu pula, kader di anggap sebagai sosok Paripurna, kader adalah Role Model dalam jenjang perkaderan dalam Himpunan Mahasiswa Islam mengingat dirinya yang telah di anggap memiliki kepribadian utuh dan kemampuan ‘lebih’.

Konsekuensi dari tiga sosok potensi yang padu, yakni pendidik, pemimpin, dan pejuang, maka kader adalah insan yang memiliki kesadaran ideologis yang tinggi, ikhlas berjihad di jalan Allah SWT, istiqomah, memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang relevan dengan tugasnya sebagai pengelola latihan HMI. 

Kader HMI adalah pembawa dan penjaga nilai Islam. Pelaksanaannya dalam sistem pelatihan, Kader HMI mengharuskan untuk mendidik dan menempatkan dirinya terlebih dahulu sebagai suri teladan. Islam menuntut agar seorang pendidik senantiasa satu kata antara lisan dan perbuatan, karena Allah SWT melarang setiap muslim menuturkan sesuatu yang dirinya tidak melakukan, bahkan justru memulai sesuatu yang diajarkan dari dirinya.

Kader adalah sosok penting dalam perkaderan HMI, kader sebagai sosok yang telah mampu mengikhlaskan sebagian kepentingan dan hasrat individu dirinya untuk kepentingan umum, Menahan ego dan nafsu serta mengingat batasan karena peranya sebagai kader.

Untuk mencapai pada tahap itu di butuhkan sebuah kekhusuyukan dan ke istiqomah-an, pada jalan menuju proses itulah paradigma profetik mengiringi dalam sebuah jalan menuju Insan kader Paripurna.

    3. Indonesia Emas 2045

Dan oleh karena itu, Himpunan Mahasiswa Islam dengan proses Perkaderan yang ada telah turut serta dan berkomitmen mendukung dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berperadaban dan sejahtera.Pengejawantahan cita-cita tersebut di lakukan HMI melalui dengan jenjang perkaderan yang menciptakan sedari dini karakter-karakter unggul dalam bidang pengetahuan dan pendidikan generasi muda Indonesia, hal ini sejalan dengan salah satu tujuan Himpunan Mahasiswa Islam, yakni “Terbinanya Mahasiswa Islam Menjadi Insan Ulil Albab Yang Turut Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Tatanan Masyarakat Yang Di Ridhai Oleh Allah S.wt.” Dimana maksud frasa Insan Ulil Albab bercirikan kader HMI yang memiliki karakter;

  • Hanya takut kepada Allah s.w.t
  • Tekun beribadah setiap waktu
  • Bersungguh-sungguh mencari ilmu
  • Mampu mengambil hikmah atas anugerah Allah
  • Selalu bertafakur atas ciptaan allah yang di langit dan di bumi
  • Mengambil pelajaran dari searah dan kitab-kitab yang di wahyukan Allah
  • Kritis dalam mencermati berbagai pendapat, mampu memilih yang benar dan terbaik.
  • Tegas dalam mengambil sikap dan pemihakan atas pilihanya.
  • Tidak terpesona atas pandangan mayoritas yang menyesatkan.
  • Dakwah dengan bersungguh-sunggh.

Dan seperti tertuang dalam nilai-nilai yang ada serta peran dan tanggung jawab yang di butuhkan pada sosok pengader HMI telah merepresentasikan nilai-nilai dari apa yang menjadi tantangan dan kebutuhan Indonesia di masa depan kelak, dan HMI hadir membentengi dan mewujudkan nilai-nilai tersebut.

Hingga pada akhirnya, imaji saya tentang Indonesia 100 Tahun pada 2045 adalah sebuah bayangan indah yang saya amati dimana struktur sosial masyararakat tertata rapi. Kepemimpunan politik yang santun, perekonomian yang berkeadilan, dan masyarakat yang berkebudayaan. Berdaulat Secara Politik, Berdikari dalam Ekonomi, dan Berkarakter dalam kebudayaan. Menuju indonesia Emas 2045!!

BABA III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dalam suatu negara yang sedang berkembang seperti Indonesia ini maka tidak ada suatu investasi yang lebih besar dan lebih berarti dari pada investasi manusia (human investment). Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir tujuan, bahwa investasi manusia kemudian akan dihasilkan HMI adalah manusia yang berkualitas ilmu dan iman yang mampu melaksanakan tugas-tugas manusia yang akan menjamin adanya suatu kehidupan yang sejahtera material dan spiritual adil makmur serta bahagia. Fungsi kekaderan HMI dengan tujuan terbinanya manusia yang berilmu, beriman dan berperikemanusiaan seperti tersebut di atas maka setiap anggota HMI dimasa datang akan menduduki jabatan dan fungsi pimpinan yang sesuai dengan bakat dan profesinya. 

Oleh karena itu hari depan HMI adalah luas dan gemilang sesuai status fungsi dan perannya dimasa kini dan masa mendatang menuntut kita pada masa kini untuk benar-benar dapat mempersiapkan diri dalam menyongsong hari depan HMI yang gemilang. Dengan sifat dan garis independen yang menjadi watak organisasi berarti HMI harus mampu mencari, memilih dan menempuh jalan atas dasar keyakinan dan kebenaran. Maka konsekuensinya adalah bentuk aktifitas fungsionaris dan kader-kader HMI harus berkualitas sebagaimana digambarkan dalam kualitas insan cita HMI. Soal mutu dan kualitas adalan konsekuensi logis dalam garis independen HMI harus disadari oleh setiap pimpinan dan seluruh anggota-anggotanya adalah suatu modal dan dorongan yang besar untuk selalu meningkatkan mutu kader-kader HMI sehingga mampu berperan aktif pada masa yang akan datang

B. SARAN

Hubungan antara asas, tujuan, sifat, status, fungsi dan peran HMI secara integral adalah dalam pencapaian dan memperjuangkan mission HMI harus dilakukan secara utuh dan menyeluruh dan satu sama lain saling mempengaruhi, dan menentukan sehingga tidak bisa ditinjau secara parsial.

Dalam diri kader HMI harus :

a)Senantiasa memperdalam kehidupan rohani agar menjadi luhur dan bertaqwa pada Allah SWT

b)Selalu tidak puas dan berkemauan keras untuk mencari kebenaran, HMI hanya komit pada kebenaran

c)Jujur pada dirinya dan pada orang lain dan tidak mengingkari hati nuraninya

d)Teguh dalam pendirian dan obyektif rasional jika berhadapan dengan orang  yang berbeda pendirian

e)Bersikap kritis dan berfikir bebas kreatif.

Maka para pendiri terdahulu telah menitipkan sebuah solusi mengorganisir setiap gerakan HMI yang terdapat dalam amanah yang di tuangkan dalam MISION HMI,semisalnya yang terlamipir pada bab-bab sebelumya ,maka sebagai kader HMI yang senantiasa mewakafkan dirinya untuk pengabdian terhadap himpunan suda menjadi kewajiban untuk mempejuangkan dan megamalkan amanah amanah yang telah di titipkan .

DAFTAR PUSTAKA

BUKU BESAR KONSTITUSI HMI 

Prof.Dr.H.Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, cv Misalka Galiza, Jakarta, 2008

Said Munirudin, Bintang Arasy-tafsir filosofis –gnostik Tujuan HMI, Kuala University Press, 2014.

Himpunan Mahasiswa Islam, Pedoman pengkaderan, Lokakarya2006.

Skenario Indonesia 2045, Studi Lemhanas.




Post a Comment for "HMI Sebagai Solusi Alternatif dalam Menjawab Tantangan Indonesia Emas 2045"