Esensi Ajaran Islam Tentang Khalifah Fil Ard dalam Reformasi Bumi - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Esensi Ajaran Islam Tentang Khalifah Fil Ard dalam Reformasi Bumi

ESENSI AJARAN ISLAM TENTANG KHALIFAH FIL ARD DALAM REFORMASI BUMI

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Tujuannya, untuk menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia dan menjauhkan mereka dari kerusakan dan kehancuran. Karena, sebelum ada manusia, di bumi pernah ada makhluk yang membuat kerusakan dan saling menumpahkan darah di antara sesama mereka, seperti dikatakan malaikat, ”Mengapa engkau berkehendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah” (Qs Al-Baqarah(2) : 30)

Allah kemudian tegas menjawab bahwa dia lebih tahu apa-apa yang tidak mereka ketahui. Pengetahuan malaikat  hanya sebatas apa yang dilihat di masa lalu, sementara pengetahuan Allah meliputi masa lalu dan masa depan. Memang sudah ada makhluk yang berbuat kerusakan dan saling membunuh, tetapi dengan menciptakan manusia sebagai Khalifah, Allah ingin menunjukan kepada malaikat bahwa para Khalifa-Nya itulah yang kelak akan berjuang dalam reformasi bumi ini.

Sepanjang sejarah, di muka bumi memang telah banyak terjadi kehancuran dan pertumpahan darah yang dilakukan oleh umat manusia, sama seperti yang dikatakan oleh para malaikat. Namun, dalam sejarah pula selalu ada orang-orang berhati jernih, berfikir terbuka dan berwawasan luas, yang terus bersuara untuk menghentikan itu. mereka adalah para nabi, rasul,  dan orang- orang saleh. Mereka adalah orang-orang yang tahu akan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai Khalifah Allah. mereka ada sejak zaman Nabi Adam hingga kahir zaman. Hanya saja, setalah nabi Muhammad tidak ada lagi nabi dan rasul, yang ada adalah orang- orang saleh.

Orang-orang saleh disini tidak hanya saleh dalam ibadah atau kedekatan mereka dengan Allah dan menjaga ajaran-ajaran-Nya, tetapi juga saleh dalam hal muamalah atau hubungan dengan sesama manusia dengan lingkungan. Mereka manjadi motor penggerak perubahan kearah yang lebih baik dari waktu ke waktu. Mereka adalah para pejuang yang terus berkreasi dan berinovasi untuk membuat sesuatu yang maslahat bagi umat manusia. apa yang mereka hasilkan betul-betul bermanfaat bagi umat manusia dan itu nyata betul dirasakan oleh manusia.

Mereka adalah manusia-manusia yang baik dan mendedikasikan seluruh hidup untuk kebaikan, baik itu kebaikan untuk diri sendiri maupun orang lain. Nabi menyebut mereka sebagai orang yang baik. Dalam hadis, seorang sahabat bertanya.” Ya  Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang terbaik itu?” nabi menjawab. “Yang panjang usianya dan baik perbuatannya.”  Dia bertanya lagi  dan  yang bagaimana orang yang paling buruk (jahat)? “nabi menjawab.” Yaitu  orang  yang panjang usianya dan jelek perbuatannya .” (HR. Ath-thabrani dan Abu Nu’aim). dalam hadits lain, sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia (Hr.Ath-Thabrani dan Al-Baihqi)

Menciptakan kebaikan  dan kemaslahatan di muka bumi adalah tugas umat manusia sebagai khalifah Allah. oleh Karena itu. Jika manusia setiap hari dan sepanjang hidupnya membuat kerusakan, baik itu kerusakan diantara sesama manusia maupun lingkungan, dia telah keluar dari jalannya yang lurus yang telah digariskan oleh Allah  sebagai amanah-Nya untuk dijalankan sebaik mungkin. Dia telah menjadi makhluk yang dikatakan malaikat di hadapan allah, yakni pembuat kerusakan dan suka menumpahkan  dara di antara sesama.

Allah berkali-kali mengingatkan manusia  untuk tidak membuat kerusakan di bumi. Misalnya, pada surah Al-baqarah (2) : 60. “ dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. “ Sepanjang sejarah, orang-orang yang membuat kerusakan selalu buruk kehidupannya dan di akhir hidupnya, kecuali jika mereka menyadari perbuatannya yang merugikan banyak orang itu, lalu kembali ke jalan kebaikan, menjadi ahli kebaikan, dan menyadari tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Nah. berdasarkan latar belakang yang penulis jelaskan diatas, maka penulis mengangkat judul : ESENSI AJARAN ISLAM TENTANG KHALIFAH FIL ARD DALAM REFORMASI BUMI. sebagai tema pembahsan dalam makalah ini.

Rumusan Masalah

Sesuai dengan judul makalah “Esensi Ajaran Islam Tentang Khalifah Fil Ard Dalam Reformasi Bumi” maka penulis dapat mengambil beberapa rumusan masalah yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini antara lain:

  1. Bagaimana Konsepsi Islam Tentang Manusia
  2. Bagaimana Kekhalifahan Manusia
  3. Bagaimana Kekhalifa dan Reformasi Bumi

Tujuan

Adapun tujuan makalah ini disusun sebagai berikut:  

  1. Mengetahui  Konsepsi Islam Tentang Manusia
  2. Menjelaskan Kekhalifahan Manusia
  3. Mengetahui Kekhalifahan dan Reformasi Bumi


BAB II

PEMBAHASAN

Konsepsi Islam Tentang Manusia

Di dalam agama Islam, manusia digambarkan sebagai makhluk yang merdeka, dan karena hakikat kemerdekaan itulah manusia menduduki tempat yang sangat terhormat. Dalam banyak sekali ayat Al-Quran diserukan agar manusia menemukan esensi dirinya, memikirkan kedudukannya dalam struktur realitas, dan dengan demikian mampu menempatkan dirinya susuai dengan keberadaan kemanusiaanya. Sesungguhnya dalam konsepsi Al-Quran, posisi itu dapat dilihat dalam predikat yang diberikan Tuhan sebagai Khalifah Allah, sebagai wali Tuhan di muka bumi. Predikat ini memberikan gambaran kepada kita bahwa seolah-olah Tuhan mempercayakan kekuasaan-nya pada manusia untuk mengatur dunia ini, suatu tugas yang maha berat yang makhluk-makhluk lain enggan memikulnya. Konsepsi seperti ini sebenarnya merupakan suatu konsepsi yang sangat revolusioner jika diingat bahwa  pada konteks lahirnya Islam  sekita Abad VI/VII, dunia belahan barat, didominasi oleh pandangan filsafat romawi-yunani serta Kristen yang melihat manusia  secara muram, secara sangat pesimis.

Di dalam filsafat yunani dan romawi misalnya, manusia dipandang sebagai makhluk yang rendah. Sebagai contoh, mitologi yunani melihat manusia sebagai makhluk yang sama sekali tidak memiliki kecerdasan sehingga diperlukan seorang dewa untuk menuntut manusia berfikir. Lebih mengerikan lagi, di dalam filsafat Kristen manusia dilihat sebagai makhluk yang pada hakikatnya busuk: manusia digambarkan sebagai penebus dosa. Dan penebus dosa itu tak lain adalah Tuhan sendiri. Jelaslah bahwa paham seperti itu merupakan paham yang fatalistik.

Dengan datangnya Islam, paham-paham seperti itu dirombak  secara keseluruhan. Oleh Islam, manusia yang dalam mitologi yunani digambarkan sebagai makhluk rendah dan dungu, dan yang oleh Kristen dipandang sebagai pendosa azali. Di dekontruksi sedemikian rupa sehingga memperoleh kedudukan yang sangat terhormat sebagai wakil tuhan: derajat manusia diangkat sampai sedemikian tinggi hingga mencapai kedudukan yang sangat mulia. Penekanan pada kemuliaan inilah sesunggunya yang sangat revolusioner dari konsepsi islam. Dalam konsepsi mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhan, islam justru mengajarakan pembebasan, bukan pengekangan. Menurut islam, aktualisasi diri manusia hanya dapat terwujud dengan sempurna dalam pengabdian kepada penciptanya. Dan ini jelas merupakan pembebasan yang sejati. Sebagai makhluk, manusia hanya dibolehkan mempunyai hubungan pengabdian kepada Allah, kepada sang khaliq. Konsepsi ini menghendaki agar manusia hanya melakukan penyembahan kepada penciptanya, bukan kepada sesembahan-sesembahan palsu.

Dalam suatu ayat diceritakan bagaimana Tuhan mengadakan percanjian agar manusia hanya mengakui-Nya sebagai satu-satunya Tuhan dan agar ia hanya  mengorentasikan hidupnya kepada penciptanya itu. Ayat ini menggambarkan betapa manusia itu adalah  abadi tuhan penempatkan manusia sebagai abadi tuhan ini sungguh-sungguh merupakan suatu dekonstruksi teologi yang sangat revolusinoer. Ia telah menjungkirbalikan konsepsi animism yangsungguh-sungguh tak berdaya: ia menyembah gunung, menyebah matahari, menyembah angin, menyembah area, dan berhala lainnya. dengan detangnya islam yang membawa konsep yang tegas bahwa manusia adalah hambah Tuhan, timbullah suatu  perombakan radikal yaitu pembebasan dari ketakutan-ketakutan terhadap gejalah-gejalah alam. Manusia tidak lagi menyembah matahari, gunung, api, angin dan lain sebagainya, tapi hanya menyembah Allah.

Islam kemudian mengangkat posisi manusia pada derajat yang tinggi sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Tapi untuk mencapai kualitas ini, manusia dituntut untuk senantiasa mematuhi-Nya, dan untuk itu oleh Tuhan manusia diberikan peluang dan potensi untuk selalu meningkatkan diri. Di dalam  Al-Quran disebutkan bahwa manusia dapat mencapai kemajuan, kemuliaan, dan kejayaan jika ia mau membersihkan dirinya secara mulia tapi juga bahwa ia dapat mencapai kemuliaan yang lebih tinggi apabila ia membersihkan dirinya secara terus-meneurus. Kita mengenal berbagai cara untuk mencapai kemajuan dengan jalan pembersihan itu, misalnya dengan cara untuk senantiasa bersyukur dan bersabar, dengan cara itulah maka kemajuan material yang kita capai tidak akan menjadikan kita gelisah, kahawatir, teralienasi, atau menjadikan kita ingkar. Ini karena cita-cita Al-Quran mengenai kemajuan manusia sesunggunya bersifat spiritual, yaitu untuk mecapai ridah Allah. Apa pun usaha kita di dunia selalu harus dikaitkan dengan tugas sebagai kahlifah Allah untuk menguasai dan mengatur dunia ini agar sesuai dengan kehendak-Nya. 

Kekhalifahan Manusia

Penuturan tentang kekhalifahan ini terdapat terdapat dalam kitab suci berkenaan dengan Adam. Agama-agama semitik (Yahudi, Kristen, dan Islam) berpadangan bahwa adam adalah manusia pertama dan bapak umat manusia. Tetapi juga ada petunjuk bahwa adam adalah “representasi” umat manusia secara keseluruhan, dari masa awal sampai masa akhir sejaranya (Qs Al-A’raf : 11) yang artinya “Sesuhnggunya kami telah benar-benar menciptakan kamu (Adam), kemudian kami membentuk (tubuh)-mu. lalu Kami katakan kepada para malikat bersujudlah kamu kepada Adam. tetapi Iblis (enggan). Ia (Iblis) tidak termasuk kelompok yang bersujud. 

Kehalifahan manusia ini mempunyai implikasi prinsip yang luas. Disebabkan oleh kedudukannya sebagai “duta” Tuhan di bumi maka manusia akan diminta tanggung jawab di hadapan-Nya tentang bagaimana ia melaksanakan tugas suci kekhalifahan itu. Manusia diharapkan untuk senantiasa memerhatikan amal perbuatannya sendiri sedemikian rupa, sehingga dapat dipertanggung jawabkan di hadapan pengadilan ilahi kelak. Kewajiban untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab ini merupakan titik mula moralitas manusia, dan membuatnya sebagai makhluk moral, yakni makhluk yang selamanya dituntut untuk mempertimbangkan kegiatan hidupnya dalam Kriteria baik dan buruk. (Qs Al-An’am : 165) yang artinya “  Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai kahlifah-kahalifa di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. sesungguhnya. dia maha pengampun, maha penyayang.”

Kekhalifahan dan Reformasi Bumi.

Muara dari semua prinsip khalifahan manusia ialah reformasi bumi. Untuk pengertian “ itu Al-Quran menggunakan kata-kata “ishab”yang berakar sama dengan kata-kata “shalib” (saleh) dan mashlahab (maslahat). Semuanya mengacu pada makna baik, kebaikan dan perbaikan. Paham tentang reformasi bumi (ishlab al-ardl) dapat di simpulkan dari paling tidak dua firman yang terjemahannya seperti berikut:

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah direformasi dan berdoalah kepada Nya dengan rasa cemas dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik ( Qs Al-A’raf :56)

Ungkapan “jangan membuat kerusakan di bumi sesudah direformasi” mengandung makna ganda. Pertama, larangan merusak bumi setelah reformasi atau perbaikan (ishlab) bumi itu terjadi oleh Tuhan sendiri, saat Ia menciptakannya. Maka ini menunjukan tugas manusia untuk melihat bumi, karema bumi itu sudah merupakan tempat yang baik hidup manusia. Jadi, juga reformasi berkaitan dengan usaha pelestarian lingkungan hidup yang alami dan sehat.

Kedua, larangan membuat kerusakan di bumi setelah terjadi reformasi atau perbaikan oleh sesama manusia. hal ini bersangkutan dengan tugas reformasi aktif manusia untuk berusaha menciptakan sesuatu yang baru, yang baik (saleh) dan membawa kebaikan (maslahat) untuk manusia. Tugas kedua ini, lebih dari pada tugas pertama, merupakan pengertian yang tepat tentang hukum-hukum Allah yang menguasai alam ciptaan-Nya, di rusakan dengan hukum-hukum Allah yang menguasai alam ciptaan-Nya, diteruskan dengan kegiatan bertindak sesuai dengan hukum-hukum itu melalui ”ilmu cara” atau teknologi. Lebih dari pada tugas pertama, pemanfaatan alam ini harus dilakukan dengan daya cipta yang tinggi, dan dengan memperhatikan prinsip-prinsip kesetimbangan. Dalam hal ini. di antara semua makhluk hanya manusia yang dapat melakukannya, sejalan dengan makna moral kisah keunggulan Adam atas para malaikat dalam drama kosmis serikat  deklarasi kekhalifahan. Dan, seperti disebutkan dalam Al-Quran “Allah mengetahui al-mufsid(orang yang membuat kerusakan) dari al-mush lih(orang yang membuat perbaikan, reformasi).(Qs Al-Baqarah: 220).

Ide tentang reformasi bumi juga dikemukakan dalam firman Allah berkenaan dengan kisah Nabi Syuaib, yang terjemahan demikian.

Dan kami telah utus kepada penduduk madiyan saudara mereka, syuaib. Ia berkata: “hai kaumku. Sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu setelah-Nya, sesungguhnya telah data kepadamu  bukti nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi sesudah reformasinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman” (Qs Al-A’raf : 85)

Dalam konteks yang sedikit beda dari yang di atas, firman ini mengajarkan larangan manusia membuat kerusakan di bumi setelah reformasinya, dalam kaitannya dengan ajarannya tentang keadilan dan kejujuran. Jelas sekali diisyaratkan bahwa reformasi bumi bersangkutan langsung dengan prinsip keadilan dan kejujuran dalam kegiatan hidup. Khususnya kegiatan ekonomi yang melibatkan proses pembagian kekayaan dan pemerataannya antara warga masyarakat, sebab bumi yang sudah direformasi (reformed earth) tidak boleh mengenal terjadinya perolehan kekayaan secara tidak sah dan tidak adil. Bahkan juga tidak boleh terjadi penumpukan kekayaan begitu rupa sehingga harta benda dan sumber hidup manusia beredar di antara orang kaya saja dalam masyarakat. Ajaran tentang pemerataan sumber daya hidup masyarakat itu jelas sekali disebutkan dalam Al-Quran. Meskipun ayat yang terjemahannya seperti di bawah ini turun rampasan perang, namun pesan moralnya adalah universal dan abadi. Sebab disebutkannya harta rampasan perang, namun pesan moralnya adalah universal dan abadi. Sebab disebutkannya harta rampasan perang hanyalah penyebutan suatu pangkal sumber daya hidup, sesuai dengan hukum yang berlaku di saat itu. Rampasan perang sebagai pangkal sumber daya itu dapat dibawa kepada analogi dengan pangkalan-pangkalan sumber daya mana pun. Jadi, ayat berikut ini merupakan perintah umum pemerataan pembagian kekayaan nasional. 

Apa saja harta rampasan perang yang diberikan Allah kepada rasul-Nya  yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya berada di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumnya-Nya. (Qs Al-Hasyr :7)

Dari antara sekian banyak cara mengumpulkan kekayaan secara tidak adil ialah korupsi dan riba. Kedua cara itu dapat menjadi sulit dilacak dan diberantas, karena ada kemungkinan mendapatkan pembenaran oleh system politik dan  hukum yang resmi berlaku, atau karena semata-mata dilindungi oleh penguasa yang zalim. Suatu bentuk korupsi bisa jadi terbenarkan secara legal (le gally right)  skalipun mutlak secara moral tetap salah (morally wrong), yaitu karena dapat dicarikan legal device-nya sehingga tidak dapat ditelusuri atau digugat. Al-quran mengisyaratkan kemungkinan itu, demikian

Janganlah kamu memakan harta sesamamu secara tidak benar, dan kamu bawa urusan itu kepada para hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang lain dengan kejahatan, padahal sebenarnya kamu menyadari (Qs Al-Baqarah :188).

Jadi, salah satu kesulitan melakukan reformasi kehidupan sosial manusia di bumi ialah adanya halangan-halangan legal-formal yang memberi pembenaran kepada kejahatan seperti suap, sogok, dan korupsi. Sebelum halangan-halangan itu disingkirkan, maka reformasi tidak akan dapat berlangsung dengan sempurna.

Kejahatan sosial lainnya yang dapat berakibat pemindahan kekayaan dari seseorang ke orang lain secara tidak sah dan yang sangat banyak kepincangan sosial yang berbahaya ialah riba. Banyak teori dan pembahasan tentang riba, dan kitab-kitab fiqih telah pula memuatnya. Tetapi sampai sekarang polemik dan kontroversi masih berlangsung, sebanding dengan kebingungan yang dialami oleh orang-orang Arab dalam membedakan riba dan jual beli atau perdagangan, karena mereka memandang keduanya sebagai sama saja. Kebingungan mereka itu terekam dalam Kitab Suci, dengan bantahan bahwa perdagangan itu seperti riba. Allah menghalalkan perdagangan, dan mengharamkan riba:

Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Demikian karena berpendapat bahwa ju al beli adalah sama dengan riba. Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Mereka yang telah menerima larangan dari Tuhannya, lalu berhenti, maka baginya apa yang telah lewat, dan urusannya ada pada Allah. Barang siapa mengulanginya, maka mereka adalah penghuni neraka, kekal di dalamnya (Qs Al-Baqarah :275)

Jadi riba bukanlah perdagangan. Dan perdagangan bukanlah riba. Perdagangan adalah suatu cara memperoleh rezeki yang terhormat, yang merupakan profesi para nabi dan rasul. Muhammad Saw. adalah seorang pedagang yang sangat ahli, yang karena kejujurannya di gelari AL-Amin ( yang percaya, trustwortry). Beliau tidak pernah melakukan riba, bahkan menentangnya dengan amat keras. Di tengah polemik dan kontroversi tentang riba itu. satu hal jelas sekali yaitu bahwa riba adalah suatu sistem ekonomi yang memungkinkan transaksi dan pemindahan kekayaan dengan dampak penindasan oleh manusia atas manusia. dari sudut pandang ini, perlu sekali kita kembali mempertanyakan sistem dan politik ekonomi yang umum berlaku, seberapa jauh ia membangkitkan penindasan kekayaan secara besar-besaran dengan muda, sehingga mendorong proses pemiskinan pada masyarakat luas, sementara sejumlah kecil manusia menikmati sumber daya secara melimpah ruah. Jika jawab terhadap pertanyaan itu membenarkan (affirmative), maka sistem yang ada itu adalah sistem riba yang zalim, yang harus di akhiri. Sebab sistem riba, akan menciptakan proses penindasan oleh manusia atas manusia. Hal itu dapat di pahami dari kitab suci demikian,

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba, jika kamu orang-orang yang beriman.

Maka jika kamu tidak mengerjakan larangan ini, ketahuilah tentang adanya perang dari Allah dan Rasul-Nya. Dan jika kamu bertobat maka untukmu modal-modalmu. Kamu tidak boleh menganiaya  dan tidak oleh pula dianiaya (Qs Al-Baqarah : 278-279)

“Tidak oleh ada penindasan oleh manusia atas manusia” begitulah tujuan sistem sosial ekonomi yang adil, yang bebas dari riba. Sebelum “penindasan oleh manusia atas manusia” itu lenyap. Maka tujuan kita bernegara ialah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Semua wawasan luhur akan tinggi ungkapan klise jika tidak ada komitmen keruhanian untuk mewujudkan


BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Islam  mengangkat posisi manusia pada derajat yang tinggi sebagai wakil Tuhan (Khalifah) di muka bumi. Tapi untuk mencapai kualitas ini, manusia dituntut untuk senantiasa mematuhi-Nya, dan untuk itu oleh Tuhan manusia diberikan peluang dan potensi untuk selalu meningkatkan diri.

Penuturan tentang kekhalifahan ini terdapat terdapat dalam kitab suci berkenaan dengan Adam. Agama-agama semitik (Yahudi, Kristen, dan Islam) berpadangan bahwa adam adalah manusia pertama dan bapak umat manusia. Tetapi juga ada petunjuk bahwa adam adalah “representasi” umat manusia secara keseluruhan, dari masa awal sampai masa akhir sejaranya (Qs Al-A’raf : 11) .Kehalifahan manusia ini mempunyai implikasi prinsip yang luas. Disebabkan oleh kedudukannya sebagai “duta” Tuhan di bumi maka manusia akan diminta tanggung jawab di hadapan-Nya tentang bagaimana ia melaksanakan tugas suci kekhalifahan itu.

Muara dari semua prinsip khalifahan manusia ialah reformasi bumi. Untuk pengertian “ itu Al-Quran menggunakan kata-kata “ishab”yang berakar sama dengan kata-kata “shalib” (saleh) dan mashlahab (maslahat). Semuanya mengacu pada makna baik, kebaikan dan perbaikan. Paham tentang reformasi bumi (ishlab al-ardl) dapat di simpulkan dari paling tidak dua firman yaitu Qs Al-A’raf :56) dan).(Qs Al-Baqarah: 220).

Kesulitan melakukan reformasi kehidupan sosial manusia di bumi ialah adanya halangan-halangan legal formal yang memberi pembenaran kepada kejahatan seperti suap, sogok, dan korupsi. Sebelum halangan-halangan itu disingkirkan, maka reformasi tidak akan dapat berlangsung dengan sempurna.

Maka untuk mewujudkan masyarakat yang damai “Tidak oleh ada penindasan oleh manusia atas manusia” begitulah tujuan sistem sosial ekonomi yang adil, yang bebas dari riba. Sebelum “penindasan oleh manusia atas manusia” itu lenyap. Maka tujuan kita bernegara ialah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. 

SARAN

Tentunya terhadap menulis sudah menyadari jika dalam penyusunan makalah masi banyak ada kesalahan serta jauh dari kata sempurna. maka, penulis akan segera melakukan perbaikan susunan makalah itu dengan menggunakan pedoman dari beberapa sumber dan kritik yang bisa membangun dari para pembaca.


DAFTAR PUSTAKA

https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-7-al-a’raf/ayat-11

https://www.tokopedia.com/s/quran/al-anam/ayat-165

Madjid, Nurcholish. 2011. Ensiklopedia II, Jakarta: PT. Demokrasi Project, Yayasan

Abad Demokrasi.

Kuntowijoyo. 2006. Islam Sebagai Ilmu. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Muhajir, Ibnu. 2008. Menjadi Khalifah Allah Yang Memperbaiki. Jakarta, Pt Elex Media Komputindo

Muniruddin, Said. 2014. Bintang Arasy, BANDA ACEH : Perpustakaan Nasional RI, Catalog Dalam Terbitan PDT, 

Post a Comment for "Esensi Ajaran Islam Tentang Khalifah Fil Ard dalam Reformasi Bumi"