ISLAM AGAMA PERLAWANAN - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ISLAM AGAMA PERLAWANAN

Sumber Foto: Pixabay

Oleh: Ibnu Tokan

PENGANTAR

Akhir-akhir ini ditengah kesibukan yang tak berkesudahan, saya mulai berpikir untuk melakukan aktivitas yang sudah lama di tinggalkan yaitu menulis.
Bagi saya menulis adalah cara mempertahankan visi dan mentransformasi ilmu pengetahuan lewat tulisan.

Setiap goresan pena yang keluar dari gagasan seorang penulis selalu memberikan corak dan warna baru dalam kehidupan. Kenyataannya, di berbagai kalangan aktivis muslim, aktivitas menulis sudah jarang ditemukan.
Kita sering menemukan berbagai teori besar serta gagasan besar yang hanya berkumandang dibalik ruang-ruang diskusi dan warung-warung kopi namun tidak pernah mendapatkan posisi yang yang seharusnya di bumikan dalam bentuk tulisan.

Semoga tulisan kali ini bisa memberikan sedikit tambahan ilmu pengetahuan dan merubah corak serta paradigma berpikir kita dalam melihat agama tidak hanya sekedar menjadi sebuah ajaran dogma yang diwariskan secara turun temurun namun agama menjadi alat perlawanan untuk melawan segala bentuk penindasan, perbudakan dan eksploitasi kemanusiaan.

ISLAM AGAMA KEMANUSIAAN

Ketika sebuah mega proyek dalam bentuk wahyu yang diturunkan oleh sang kreator tunggal (ALLAH SWT) dengan perantara Jibril kepada manusia pilihan bernama Muhammad SAW ditengah gemerlap malam tepatnya di Gua Hira telah memberikan penegasan kepada alam semesta bahwa hari itu telah lahir sebuah agama yang membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan yang sudah terkungkung dalam kurun waktu yang cukup lama.

Islam yang diturunkan pada waktu itu seperti yang dijelaskan oleh Hasdin Mondika dalam bukunya "Generasi Islam Antara Romantisme dan Rekonstruksi Peradaban" Menegaskan bahwa Islam hadir membawa Visi "Tauhid" dengan Misi menegakkan "amar mar'uf nahi mungkar".

Muhammad mendapatkan penolakan dari berbagai tokoh Quraisy saat menyebarkan ajaran islam. Sebagaimana dikutip dari buku Tafsir al-Munir Jilid 12 Aqidah, Syariah, Manhaj (Juz 23-24 Yaasiin-Fushshilat) karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, bahwa Penolakan yang dilontarkan oleh sebagian besar tokoh Quraisy dimulai dari menuduh Rasulullah gila dan tuduhan lainnya, melakukan intimidasi pada pengikut beliau, hingga melakukan berbagai propaganda untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad SAW.

Penolakan itu bukan tak bersebab namun kaum Quraisy melihat Islam sebagai ancaman sosial karena Islam hadir untuk memberikan peringatan kepada mereka yang selama ini telah menumpuk harta dan kekayaan dan melakukan penindasan dimana-mana. Inilah substansi penolakan Islam yang sesungguhnya.

Hal ini di pertegas oleh Asghar Ali Engineer, dalam bukunya "Islam dan Pembebasan ", Ketika Al-Qur'an secara tegas mengutuk penindasan dan ketidakadilan, maka perhatiannya terhadap wujud sosial yang baik dari masyarakat yang egaliter tidak bisa disangkal lagi. Karena itu menurut Ali, terlepas dari signifikansinya, istilah-istilah Al-Qur'an juga mempunyai konotasi-konotasi sosial-ekonomi. Dengan demikian, term kafir dalam Al-Qur'an tidak hanya bermakna ingkar kepada Tuhan melainkan secara tidak langsung juga menentang ketidakadilan dan ketidakjujuran yang terjadi dalam masyarakat. Orang yang mengaku beriman kepada Allah harusnya menunjukkan keberpihakannya (komitmen) terhadap orang-orang yang lemah (Al-Mustadh-afin-afin) seperti anak-anak yatim, orang miskin, orang terlantar dan menegakan keadilan di muka bumi".

Konsepsi Konsomologi juga menjelaskan Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin.

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al Anbiya: 107).

Konsepsi ini mengembangkan pola hubungan antar manusia yang pluralis, humanis, dialogis, dan toleran. Selain itu, konsep ini mengembangkan pemanfaatan dan pengelolaan alam dengan rasa kasih sayang.

Sederhananya cendikiawan dan intelektual muslim seharusnya memposisikan diri sebagai orang yang menjaga keseimbangan alam semesta dengan tidak melakukan eksploitasi alam seperti menebang hutan secara sembarangan, menggali isi perut bumi yang merusak habibat alam, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan menjaga ekosistem laut. Inilah sejatinya keberpihakan islam yang sesungguhnya yang harus dijunjung tinggi nilainya dengan menjaga langit dan segalanya isinya serta bumi dan segala yang ada didalamnya.

Namun fakta menunjukkan bahwa banyak petinggi dan penguasa islam yang menduduki jabatan strategis hari ini tidak mereduksi nilai-nilai islam yang sesungguhnya sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta namun ikut terlibat memberikan kontribusi memperpanjang barisan penindasan dan melakukan eksploitasi dimana-mana.

MEMPOSISIKAN KEMBALI ISLAM DI TENGAH KETERPASUNGAN ZAMAN

Fakta sejarah membuktikan bahwa semenjak bergulirnya Orde Lama digantikan Orde Baru di tandai dengan berbagai problem keumatan dan kebangsaan yang sangat kompleks. Peristiwa turunnya Presiden Soekarno dan digantikan oleh Presiden Soeharto tidak terlepas dari keterlibatan para "Mafia Berkeley". Tuntutan agenda Reformasi yang di gelorakan mencapai puncak pada tahun 1998 dengan tuntutan mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, melaksanakan amendemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menghapus dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, melaksanakan otonomi daerah seluas-luasnya, menegakkan supremasi hukum, dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme sampai hari ini masih jauh dari cita-cita ibarat jauh panggang dari api.

Berbagai Kasus pun muncul satu persatu mulai dari Era Presiden B.J HABIBI sampai Presiden Joko Widodo. Menurut Laporan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), terdapat berbagai persoalan yang belum terselesaikan di masa kepemimpinan Jokowi-Mar'uf mulai dari Situasi kebebasan sipil terus menerus memburuk, Negara abai dalam melindungi pembela HAM, Macetnya Reformasi Sektor Keamanan, Pendekatan Represif Papua Tanpa Koreksi, Sikap Buruk Jokowi Terhadap Isu Internasional dan Nihilnya Partisipasi Publik dalam Pembuatan Regulasi.

Berbagai problem yang telah dipaparkan diatas harus menjadi titik sentral yang harus diperjuangkan oleh generasi islam yang membawa missi pembebasan terhadap seluruh umat manusia dan sekaligus hadir sebagai peringatan untuk menegakan keadilan.

Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan. Jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman” (Shahih Muslim: 70).

Konsep iman adalah keyakinan transendental manusia kepada Tuhan yang telah menjanjikan kemenangan di setiap perjuangan. Ikhtiar panjang perlawanan harus di bangun oleh generasi islam untuk melawan segala bentuk penindasan yang terjadi di bangsa ini.

Dalam masalah relasi sosial, dimensi Islam itu tidak hanya bercorak teosentris, tetapi juga antroposentris. Karena agama diturunkan Tuhan untuk manusia dan manusia tidak lepas dari ketergantungannya dengan manusia lain, atau juga alam ciptaan Tuhan, maka bagaimanapun persoalan ini harus tidak terabaikan. Sehingga dengan demikian ajaran tauhid tidak terlepas dari dimensi sosialnya. Tetapi seberapa jauh kita mampu melakukan ini? Sudahkah kita beramal karena iman? Pertanyaan ini menjadi bahan refleksi untuk seluruh generasi islam agar memposisikan dirinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan tahu siapa yang harus dibela dan siapa yang harus di perjuangkan.

Masukannya kapitalisme di berbagai sektor kehidupan pasca perang panjang dengan Marxisme membuat kapitalisme unjuk diri dan menganggap tidak ada musuh yang bisa mengalahkannya sehingga menjadikan Islam sebagai musuh baru.

Tawaran ekonomi kapitalisme membuat masyarakat Indonesia di ninabobokan dengan konsep pembangunan yang sebenarnya hanya memiliki satu tujuan yaitu Eksploitasi dan penindasan. Lebih parahnya lagi generasi Islam juga menjadi target eksploitasi dan diberikan posisi yang strategis yang sebenarnya hanya menjadikan mereka sebagai budak-budak kapitalisme sehingga kadar dan kualitas keimanan intelektual muslim mulai tergerus dan tidak lagi menyembah kepada Tuhan yang Maha Esa tetapi menyembah kepada berhala-berhala baru seperti Harta, Tahta dan Kekuasaan.
Inilah yang dikritik oleh Hasan Hanafi bahwa semenjak islam hidup dalam istana penguasa feodal, islam menjadi agama kekuasaan.

Sepinya gerakan perlawanan intelektual muslim terhadap kezaliman disebabkan karena  teologi pembebasan hanya di pahami tidak lebih dari sebuah cara pandang tetapi tidak di terjemahkan sebagai alat perlawanan.

Tradisi Islam sebagai basis gerakan sosial telah kehilangan posisi dan nilai tawarnya karena generasi Islam Indonesia merasa sebagai generasi mayoritas mengalami keterpasungan tradisi sehingga gerakan yang dibangun adalah gerakan yang hanya bermuara pada gerakan moralitas bukan pada gerakan sosial sehingga mudah untuk dipecah belah. Kebanyakan generasi Islam memposisikan agama sebagai tempat untuk mencurahkan kesedihan saat mendapat ujian hidup ketimbang menjadikan Islam sebagai agama pencerahan sekaligus agama pembebasan.

Terakhir, Semoga Tulisan ini bisa menginspirasi tidak hanya untuk generasi islam tetapi juga untuk masyarakat Indonesia secara keseluruhan yang bermuara pada satu konsepsi bahwa islam bukanlah agama yang membiarkan penindasan dan kezaliman terjadi tetapi islam menjadi agama Rahmatan Lil Alamin. Amin... 


Post a Comment for "ISLAM AGAMA PERLAWANAN"