TOPENG KEKUASAAN DI BALIK TIRAI KEPAHLAWANAN - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TOPENG KEKUASAAN DI BALIK TIRAI KEPAHLAWANAN


PENGANTAR

Terlemparnya topeng kemunafikan
Dari kaum negarawan menjadi badut
Dan beberapa, meminjam kepopuleran
Seperti orang asing di negeri sendiri" (Mandevile). 

Ketika Sebuah negeri yang di kenal dengan negeri kepulauan yang membentang dari sabang sampai merauke di jajah habis-habisan oleh mereka yang di sebut kolonialisme akhirnya di satukan dengan sebuah nama yang bernama Indonesia.

Dalam catatan sejarah panjang kemerdekaan bangsa ini selalu di warnai dengan berbagai dinamika yang terjadi baik dalam skala regional, nasional, maupun internasional. Duina di buat kebingungan lantara polemik besar yang berkepanjangan yang menimpah rakyat di negeri ini membuahkan hasil pada bulan agustus 1945.

Hal ini tentu tidak terlepas dari perjuangan orang-orang yang berani meneriakan kebenaran di saat kebanyakan orang hanya terdiam membisu menatap cakrawala dengan tatapan kosong tanpa makna. Mereka-mereka itulah yang patut di sematkan gelar sebagai Para Pahlawan.

Fakta yang terjadi hari ini, predikat pahlawan kini menjadi sebuah kata tanpa makna.
Kita selalu di sibukan dengan kepentingan-kepentingan individu dan akhirnya menjelma menjadi pengkhianat terhadap bangsa sendiri.

Presiden pertama, Soekarno pernah mengatakan bahwa perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.
Fakta hari ini pun berbicara demikian.
Mari kita lihat!

TOPENG WARNA WARNI

Bulan Nopember kita kenal sebagai bulan kepahlawanan, patriotisme, dan selaksa perjuangan melawan penjajah. Senandung bergemuruh menyambut sejarah heroisme para pahlawan masih terasa ketika kita berkaca pada 10 Nopember yang menjadi peringatan hari pahlawan dimana rakyat jelata, petani, pedagang, pelajar, guru, tentara , bahkan perempuan yang pada saat itu bersatu membangun kekuatan demi mewujudkan tujuan bersama yakni kemerdekaan indonesia.

Persatuan yang dibangun diatas satu visi yakni kemerdekaan indonesia tanpa memandang ras, suku, dan golongan kini telah di khianati oleh generasi penerus bangsa hari ini.

kita sebagai generasi penerus bangsa seharusnya tidak hanya merefleksikan hari pahlawan sebagai sebuah ritual tahunan belaka namun menjadikan momentum ini sebagai sebuah koreksi dan evaluasi diri dan bangsa ke arah yang lebih baik lagi.

Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah terminologinya mengatakan bahwa sejarah dunia adalah sejarah orang muda, apabila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa.

Senada dengan pernyataan ini, kita melihat bahwa hari ini sejarah telah kehilngan taringnya ketika generasi penerus mewariskan sikap aptais yang begitu tinggi terhadap permaslahan-permasalahn yang terjadi di bangsa ini. 

Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merajalalela di bumi persada ini, ketidakadilan hukum terjadi di mana-mana, pelanggaran terhadap Hak asasi manusia di anggap barang lumrah.

Bukan hanya itu saja, pertarungan besar-besaran terjadi di level pemangku kebijakan. Segala cara dihalalkan untuk mencapai tujuannya. Rakyat di korbankan seakan-akan rakyat hanya sebagai tamu di negeri sendiri.
Ada apa dengan negeri ini?
Seakan-akan tidak ada lagi orang baik di negeri ini.

Kita membutuhkan sebuah indonesiai yang jika berteman tanpa lebih dahulu bertanya siapa pilihan calon presidenmu? Kita butuh indonesia yang jika berteman tanpa lebih dahulu bertanya apa agama mu? Kita butuh semangat keindonesiaan yang meski berbeda-beda namun tetap bergandengan.

SEJARAH YANG TERLUPAKAN

Pada tahun 1908 berdirinya organisasi pemuda yang bernama Boedi Uetomo dengan mengemban visi untuk mencapai kemerdekaan indonesia.

Kemudian pada tahun 1928 para pemuda bersepakat untuk melahirkan sebuah sumpah yang sampai hari inti kita kenal dengan sebutan sumpah pemuda yang mengemban visi untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Kemudian pada tahun 1945 golongan tua bertikai dengan golongan muda untuk menentukan waktu proklamasi kemerdekaan indonesia, akhirnya para pemuda bersepakat untuk mendesak presiden soekarno  agar sesegera mungkin memproklamasikan kemerdikaan indonesia yang akhirnya berbuah hasil pada bulan agustus 1945.

Kemudian pada 1965 ketika sejarah kelam yang menimpah republik ini yakni dengan tragedi yang kita kenal yaitu Gerakan 30 September 1965.

Waktupun berjalan sampai pada tahun 1998 para pemuda yang hadir dengan wajah baru menamakan diri mereka sebagai mahasiswa melakukan sebuah gerakan  yang di bangun diatas semangat para pahlawan terdahulunya yang selalu membela kepentingan rakyat dan selalu menyuarakan kebenaran menumbnagkan sebuah rezim  yang kita kenal hari ini dengan sebutan reformasi.

Biarlah sejarah berbicara tentang siapa-siapa yang menjadi pahlawan dari setiap polemik panjang yang menimpa bangsa ini.
Saat ini indonesia masih menghadapi tantangan persatuan dan kesatuan bangsa ini, mulai dari terjadinya konflik antar umat beragama sampai pada konflik kekerasaan terhadap anak dan perempuan.

Kita patut menyadari bahwa perjuangan para pahlawan kita dengan keringat, tetesan darah dan air mata harus benar-benar membumi dalam sanubari kita. Hanya dengan itulah kita mampu menghargai kebinekaan dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sebagai dasar negara dan sebagai ideologi pemersatu bangsa juga sebagai spirit kegotong-royongan dalam bermasyarakat dan bernegara.

NEGERI IMPIAN

Sudah 73 tahun indonesia merdeka, olehnya kita sebagai masyarakat  moderen yang mempunyai karakterisitik perubahan perilaku, perubahan tutur kata dan perubahan performa yang selalu mengikuti hukum dialektika dan kondisi obyektif sosial di negeri ini haruslah bersikap rasional, berorentasi ke masa depan, terbuka dan menghargai waktu, kreatif, inovatif dan mandiri.

Perubahan masyarakat hari ini sangat di pengaruhi oleh dunia pendidikan. Hari ini lembaga pendidikan di indonesia sudah menunjukan tercerabut dari logika keindonesiaan. Lembaga pendidikan malah belajar kepada barat. Cara berpikir, gaya hidup, serta pandangan hidupnya khas dominan barat.

Sistem pengajaranya merujuk organisasi pendidikan formal yang penyelenggaraanya berdasarkan kebijakan kurikulum pemerintah. Aspek kurikulum itu melaksanakan kebijakan untuk merekontruksi sesuai dengan kebutuhan politik anggaran dan menekankan hasil dari pada proses humanisasi pendidikan.

Seharusnya pendidikan bertugas memanifestasikan sistem nilai yang visioner, yaitu bagaimana orang-orang itu di perlukan sebagai manusia seutuhnya sehingga kemanusiaannya memanusia, serta berafiliasi pada nilai-nilai positif.

Momentum hari pahlawan juga bukan sekedar merefleksikan perjuangan para pahlawan yang telah memperjuangkan keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia, namun memontem hari pahlawan seharusnya di jadiakn momentum untuk merefleksikan diri kita dan kondisi bangsa hari ini agar tatanan nilai dalam kehidupan bermsyarakat benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat indonesia sesuai dengan sila ke lima pancasila yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat indoensia.

Akhirnya, seleksi alam akan menentukan siapa-siapa yang mundur sebagai pengkhianat dan siapa-siapa yang bangkit melawan menjadi pahlawan.

(Penulis: Ibnu Tokan)

Post a Comment for "TOPENG KEKUASAAN DI BALIK TIRAI KEPAHLAWANAN"