surat untuk himpunan - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

surat untuk himpunan


Dalam mirhab cinta tanah pertiwi
Aku dilahirkan dari rahim-mu
Dibesarkan dengan segudang perjuangan
Tentang iman, ilmu dan amal

Kala itu...
Ketika aroma penjajahan masih mencengkram
Ketika pelupuk mata dipenuhi dengan derita kemanusiaan
Ketika ibu pertiwi menangis terseduh-seduh menangung dosa sejarah
Lantara ia menyaksikan sendiri, anak bangsa yang ia lahirkan saling membunuh di hadapannya

Ada yang lahir sebagai pejuang
Ada yang lahir sebagai pecundang
Ada yang lahir sebagai apatais
Ada juga yang lahir sebagai si penggoda ulung

Waktu pun berjalan
Jarum jam pun berputar
Menit pun berlalu
Detik pun berdetak kencang
Meninggalkan anak-anak ibu pertiwi
Membiarkan mereka menjadi anak bangsa yang yatim piatu
Tanpa ayah, tanpa Ibu.

Lagi dan lagi...
Ketika aksara menari-nari diatas lembar-lembar sejarah dengan raut wajah pilu
Ketika ibu pertiwi sedang kehilangan arah
Lantara hatinya telah menjadi batu
Saat ia menyaksikan sejuta kisah pilu di pelupuk matanya

Diatas naungan duka, pilu, lara yang sedang berkecamuk
Melewati dinding-dinding hati yang mulai rapuh
Menerjang, membumi hanguskan
Seakan-akan telah terjadi kiamat-kiamat kecil

Dan saat itu
Bertepatan dengan 05 februari 1947
Ibu pertiwi melahirkan anak terakhir yang di beri nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Anak itu hadir membawa secercah harapan untuk ibu pertiwi
Ia hadir dengan membawa misi suci para nabi
Yang kemudian ia pun menikah, beranak pinak dan melahirkan anak-anak bangsa yang meneruskan risalah ketauhidan dan kenabian.

Risalah tentang umat yang sedang sekarat
Seakan-akan sedang menghadapi sakratul maut
Risalah tentang bangsa yang sedang kehilangan arah
Seakan-akan tidak bisa lagi membedakan mana timur, mana barat, mana utara, dan mana selatan

Risalah tentang ibu pertiwi 
yang menyanyikan nyanyian cinta kepadamu
Risalah tentang sebuah perjuangan
Antara memilih hidup sebagai pahlawan atau mati sebagai pecundang

Tetapi...
Aku tak memilih keduanya
Aku memilih hidup lebih lama denganmu Hijau Hitam-ku
Aku memilih mencintaimu Hijau Hitam-ku dengan nyawa sebagai taruhannya

Sehingga sampai pada suatu masa
Kita menyatu, mendarah daging
melebur menjadi satu kesatuan yang hanya bisa pisahkan oleh yang namanya kematian

Begitu indah risalahmu wahai hijau hitam-ku
Sehingga aksara sekali pun tidak mampu untuk membahasakan dirimu
Aksara hanya mampu hadir dengan perasaan cinta kepadamu

Lalu...
Aksara menyambutmu dan menceritakan kisahmu dalam lembar-lembar sejarah umat manusia.
Menceritakan tentang anak bangsa yang lahir dari Rahim-mu.

Biarlah sejarah berbicara
Bahwa kebenaran akan selalu ada
Bahwa kebenaran akan selalu menjadi kebenaran sampai malaikat israfil meniup sangkakala-nya
Bahwa kebenaran tidak akan pernah mati sampai malaikat Izrail datang menjemputmu






 






 



Post a Comment for "surat untuk himpunan"