Rahim Tanah Papua - Tela'ah peran Negara dalam perspektif keadilan - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rahim Tanah Papua - Tela'ah peran Negara dalam perspektif keadilan



Penulis :  Ibnu Tokan

Momentum perayaan tahun baru selalu di warnai dengan pesta kembang api yang memenuhi seluruh jagat raya baik dari belahan timur sampai ke belahan barat. Manusia hari ini menjadikan momentum perayaan tahun baru dengan berbagai kegiatan yang sangat materialistis dan sangat kelihatan hedonisme sekali.  Fakta membuktikan bahwa masyarakat hari ini selalu di doktrin dengan satu  slogan bahwa malam tahun baru adalah malam pesta kembang api dan berbagai kegiatan hura-hura lainnya.

Seharusnya di penghujung tahun 2019 dan di awal tahun 2020 di jadikan sebagai momentum untuk merefleksikan berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan sepanjang tahun_tahun yang lalu.
Mengapa demikian? Sebab masih banyak sekali persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera di selesaikan baik di level pemerintah secara umum dan kita sebagai masyarakat secara khusus.

Dalam Konteks ini, Negara sebagai rumah peradaban untuk anak bangsa seharusnya menjadi seorang kepala keluarga yang mampu di jadikan panutan dalam setiap pengambilan keputusan. Namun lagi dan lagi fakta berbicara lain, bahwa negara kini hadir bagaikan seseorang majikan yang mempekerjakan budak-budak di dalamnya. Majikan ini dengan sewenang-wenang memperlakukan orang-orang di dalamnya yang dalam bahasa moderen sering di sebut "semau gue"atau dengan bahasa lain bahwa seorang majikan yang hidup dalam ideologi pancasila namun menganut ideologi kapitalisme dan neoliberalisme. Singkatnya bahwa negara kini hadir bukan menjadi tempat perlindungan terakhir buat anak bangsa namun negara hadir seperti hewan liar yang kelaparan yang siap menerkam mangsanya. Dan sayangnya, mangsa itu adalah anak bangsanya sendiri. Ini yang menjadi indikator kegagalan negara sebagai rumah peradaban bagi anak bangsa.

Apakah lantas negara yang di salahkan?

Dalam teori keadilan negara di kenal dengan suatu teori yang mana baik dan buruknya suatu negara atau wilayah tergantung dari orang-orang yang mengendalikan negara tersebut, bahwa tidak ada suatu kekuatan revolusi tanpa seorang pemimpin yang kuat. 

Hal ini ingin menjelaskan kepada kita bahwa titik persoalan dari permasalahan ini adalah orang-orang yang di beri amanah untuk menjadi wakil rakyat di suatu negara itu sendiri sebab negara hanya organ tanpa makna apabila tanpa pengendalian secara internal.

Mari kita lihat dari timur,  Papua sebagai cahaya dari timur yang menyimpan beribu  mutiara dalam isi perutnya harus dijadikan sebagai tolak ukur keadilan sebab aksara sekalipun tidak bisa di jadikan sebagai tolak ukur untuk menghitung berapa banyak mutiara yang tersimpan dalam rahim tanah Papua.
Senada dengan hal ini, berbagai persoalan yang terjadi di Papua hari ini, mulai dari penembakan terhadap warga sipil, masalah kesehatan, infrastruktur, pendidikan sampai kepada masalah yang paling urgent ialah masalah ekonomi yang dari tahun ke tahun belum di selesaiakan sampai hari ini. Akumulasi dari ketimpangan sosial yang menimpa masyarakat papua hari ini hanya satu indikator yakni masalah kemiskinan/masalah perut.

Senada dengan hal di atas, menurut kajian psikologi kemanusiaan menjelaskan bahwa manusia di lahirkan bukan untuk saling membunuh namun dalam keadaan tertentu manusia akan saling membunuh karena untuk mempertahankan hidup. Sekali lagi naluri manusia bukan untuk membunuh namun kondisi dan seleksi alam yang menyebabkan manusia untuk saling membunuh. Ini sejalan dengan indikator ketimpangan sosial yang menimpa papua hari ini.

Di mana peran negara? 

Untuk melakukan suatu revolusi dibutuhkan seorang pemimpin yang kuat dalam konteks memiliki visi yang visioner. Pemimpin yang mengatur kapan menyerang, kapan mundur, kapan harus bertahan, siapa yang memimpin, siapa yang di pimpin dan siapa yang melawan siapa. Tidak ada suatu revolusi yang tidak di mulai dengan pemimpin yang kuat, dan dalam catatan sejarah umat manusia, yang namanya revolusi harus ada yang menjadi korban dari revolusi yang dibangun.

Mengapa demikian, karena hukum sekalipun tidak akan bisa menyelesaikan persoalan di bangsa hari ini, sebab fakta sejarah membuktikan bahwa sudah jutaan sarjana hukum yang lahir di kampus-kampus ternama di negri ini akan tetapi tidak bisa membuat hukum sendiri. Kita tidak bisa menafikan bahwa hukum yang berlaku di bangsa ini adalah hasil dari peninggalan sejarah penjajahan bangsa belanda yang kita kenal dengan Eropa Continental. 

Berbagai produk undang-undang yang dikeluarkan sangat kental dengan subtansi politis yang hanya mengejar kepastian hukum dan melupakan sisi kemanfaatan dan keadilan hukum. Misalnya saja, isu-isu  pelanggaran HAM dan tindakan rasisme yang menimpa masyarakat papua dari tahun ke tahun belum menemui titik terang dan masih menjadi wacana yang diperdebatkan secara terus menerus. Hukum tidak benar-benar hadir sebagai solusi dalam mengatasi konflik ini, hukum hanya dijadikan alat penindasan dan tempat berlindung bagi para pelaku pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Terakhir, penulis mencoba menawarkan solusi terkait permasalahan keadilan hari ini, bahwa negara hanyalah sebuah organ tanpa makna apabila tidak mampu memahami bagaimana mengelola negara secara pancasilais. 

Setiap kebijakan yang buat untuk kepentingan nasional haruslah berlandaskan nilai-nilai luhur yang ada di dalam Pancasila sebab Pancasila adalah ruh perjuangan bangsa dan sumber dari segala sumber hukum. Olehnya, untuk melahirkan keadilan dibutuhkan komitmen dengan satu visi yakni menuju masyarakat yang berkeadilan. Visi inilah yang harus menjadi komitmen  bersama untuk menjalankan mengelola negara sehingga tercapainya keadilan yang subtansif bagi seluruh rakyat indonesia. 


Post a Comment for "Rahim Tanah Papua - Tela'ah peran Negara dalam perspektif keadilan"