Perempuan dan kuasa peradaban - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perempuan dan kuasa peradaban



Penulis: Ibnu Tokan

Sejarah singkat lahirnya Hari Perempuan Internasional

Secara historis, setiap tanggal 08 Maret di peringati sebagai Hari Perempuan Internasional. Hal ini berawal dari pertama kali dilakukan pada tanggal 28 Februari 1909 di New York, Amerika Serikat yang di pelopori oleh Partai Sosialis Amerika Serikat untuk memperingati satu tahun berlalunya demonstrasi kaum perempuan setahun sebelumnya di New York pada tanggal 08 Maret 1908 yang dipelopori oleh Theresa Malkiel, aktivis perempuan kelahiran Rusia. Gerakan pada tahun 1908 ini di latar belakangi oleh para pekerja pabrik garmen yang menuntut hak berpendapat dan berpolitik. 

Faktor lain yang menjadi landasan lahirnya hari perempuan internasional ialah adanya kejadian menggenaskan yang pernah menimpa buruh perempuan pada sebuah kebakaran besar di Pabrik Triangle Shirtwaist Tahun 1911 yang menewaskan setidaknya 123 nyawa buruh perempuan. Setelah itu gerakan ini hilang beberapa dekade dan kembali muncul ke permukaan pada era 60-an yang berbarengan dengan bangkitnya gerakan feminisme. Akhirnya pada tahun 1974, untuk pertama kalinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingati Hari Perempuan Internasional dan dua tahun kemudian pada tanggal 08 Maret 1977 resmi di jadikan sebagai Hari Perempuan Internasional dan terus di peringati sampai hari ini.

Perempuan dan Relasi sosial

Perempuan memiliki dua peran besar secara umum dalam kehidupannya. Pertama, sebagai konstruktor peradaban yang peranan penting terhadap maju tidaknya sebuah peradaban. Dari tangan perempuanlah lahirlah generasi penentu masa depan.

Kedua, tidak terlepas dari peran yang pertama, perempuan sebagai pencetak generasi cemerlang dan penerus masa depan yang mana dari rahimnya lahir para pemimpin, para pemikir, para ideolog dan para ilmuan yang akan menentukan arah suatu bangsa.

Diskursus tentang perempuan ini, menjadi perbincangan hangat yang selalu didiskusikan karena di tangan dingin seorang perempuanlah yang akan menentukan maju dan tidaknya suatu peradaban.

Ada banyak persoalan yang hadir hari ini dikalangan masyarakat terkait dengan peran perempuan dalam wilayah domestik maupun wilayah publik. Hal ini disebabkan karena perempuan bukan saja sebagai anak, istri, ibu, namun juga sebagai masyarakat yang  dalam pendekatan teori sosial modern mengatakan bahwa manusia hidup di muka bumi ini tidak bisa sendiri-sendiri dan harus berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.

Dalam konsep Sosiologi moderen, dikatakan bahwa individu adalah bagian dari masyarakat dan masyarakat juga bagian dari individu. Antara individu dan masyarakat bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa interaksi sosial merupakan sebuah keharusan agar tercipta keharmonisan dalam suatu komunitas atau masyarakat tertentu.

Permasalahannya adanya kontradiksi paradigma berpikir yang keliru terhadap wacana kritis yang dibangun untuk memahami bagaimana kedudukan perempuan dalam sistem sosial dan juga apakah dalam sistem sosial antara kesetaraan gender dan keadilan gender, mana yang harus diperjuangkan?

Sosiologi Gender Sebuah Alternatif

Sosiologi gender merupakan salah satu sub bidang ilmu sosial yang memetakan situasi problematik dan mengkaji isu gender dalam kehidupan sosial.

Sosiologi gender mengembangkan teori dan penelitian yang mempertanyakan sekaligus menjawab bagaimana kontruksi sosial gender berlangsung, bagaimana dimensi gender berinteraksi dengan kekuatan sosial lainnya dalam masyarakat dan bagaimana dimensi gender berkaitan dengan struktur sosial secara keseluruhan.

Menurut Eisenstein, dalam perspektif sosiologi, konsep gender harus dipahami sebagai sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial dan budaya.

Konstruksi sosial dan budaya menjadi patologi sosial yang diwariskan secara regenerasi yang berdampak pada perilaku diskriminatif dalam kehidupan sehari-hari seperti kekerasan seksual, stigma sosial, domestikasi, dan marginalisasi.

Misalnya dalam sektor politik, praktik diskriminasi masih dialami perempuan dengan banyak bentuk seperti kuota keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan dan pembuat kebijakan pemerintah. Padahal jika merujuk pada pasal 64 ayat (1) UU No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD seharusnya memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 %.

Namun dalam kenyataannya keterwakilan perempuan yang duduk di badan legislatif saat ini hanya sekitar 21 %.

Analisis sosiologi gender ini diakui banyak pihak telah menyumbang paradigma baru dan topik baru untuk dilakukan penelitian berkaitan dengan isu gender, relasi kuasa berbasis gender, ras dan kelas sosial.

Sementara itu, dalam perspektif empiris telah meletakan dasar metodologi dan strategi penelitian yang mengarah pada keadilan gender bagi masyarakat secara luas.

Terakhir, terlepas dari kajian tentang sosiologi gender di atas, perempuan juga seharusnya memahami potensi dalam diri sehingga tidak terjebak pada wilayah romantisme masa lalu yang telah menjadikannya sebagai ladang eksploitasi dan penindasan yang berujung pada perilaku diskriminatif.

Potensi dalam diri perempuan sebagai peletak dasar peradaban umat manusia yang melahirkan generasi cemerlang di setiap sendi-sendi kehidupan haruslah dilandasi dengan kerangka pemahaman bahwa sebuah peradaban ideal pasti dimulai dari individu yang cemerlang.

Dalam konteks ini, peran domestik merupakan salah satu indikator penentu untuk mencetak generasi penerus yang beradab seperti mengurus rumah dan anak. Peran perempuan sebagai ibu (peran domestik) yaitu menjadi guru/pendidik generasi unggul pertama untuk anak-anak sebelum ia menemui guru/pendidik hebat di luar sana sekaligus menjadi tempat pertama muara segala cinta dan kasih sayang.


Post a Comment for "Perempuan dan kuasa peradaban"