NTT RUMAH PETI MATI - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

NTT RUMAH PETI MATI



Penulis : Ibnu Tokan

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan mengatakan, Nusa Tengara Timur merupakan daerah dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia. Ia menuturkan masyarakat NTT selalu mengedepankan aspek kekeluargaan, dan saling menghargai antar umat beragama sehingga patut di jadikan contoh dalam membangun kerukunan umat beragama di nusantara.

Hal diatas patut menjadi kebanggaan warga NTT. Namun NTT bukanlah surga yang indah nan permai, karena warga NTT terhimpit persoalan ekonomi. Hal ini mendorong warga NTT untuk bekerja menjadi tenaga kerja asing (TKA) di luar negeri.

Berdasarkan data BPS NTT tahun 2017, menunjukkan rendahnya kualitas angkatan kerja dimana 56,65% masih berpendidikan SD kebawah, 2,67% berpendidikan Diploma, dan 4,46% berpendidikan S1/S2/S3. Di lihat dari data diatas maka persoalan kualitas tenaga kerja ini hampir di dominasi para TKI yang masih berpendidikan SD kebawah.

Mengapa hal ini bisa terjadi? siapa yang harus di salahkan? Apa tindakan pemerintah terhadap persoalan ini? Dan bagaiamana mekanisme untuk menyelesaikan persoalan diatas?

Berdasarkan data dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kupang Terhitung sejak bulan Januari sampai Mei tahun 2018, sebanyak 32 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTT meninggal di luar negeri,

Menurut data BP3TKI diatas, belum sampai setengah tahun sudah 32 nyawa masyarakat Nusa Tenggara Timur berdatangan silih berganti seperti kelopak bergantian meninggalkan tangkai yang rapuh.
Kematian seakan-akan menjadi sebuah hal yang lumrah saja di bumi flobamora ini. Apakah ini patut kita sebut dengan kejahatan semi extra ordinary crime?

Ataukah ada istilah lain yang patut mewakili kejahatan ini?

Baru-baru ini terjadi lagi pengiriman peti mayat setelah tiga hari meninggal di Malaysia, yakni jenasah Kris Kolo (23), satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal desa Ekateta, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang yang pada pukul 23:00 Wita akhirnya tiba di Bandara El tari Kupang, Minggu (01/7/2018) malam. Wajah penuh tanda sejuta pertanyaan dan ratap pilu kembali menerpa keluarga almarhum Kris Kolo di ruang kargo bandara eltari ketika peti berwarna putih keluar dari ruang kargo dan langsung dibawah ke rumah duka. Lagi-lagi kematian demi kematian merajalela di bumi flobamora ini. Seakan-akan NTT menjadi sarang bersamayamnya peti mati.

Lalu apa kita biarkan hal ini tetap terjadi?
Miris melihatnya, Menangis dalam kesunyian, meratap dan memohon kepada pemangku kebijakan untuk segara merespon persoalan ini dan segera menyelesaikannya.

Untuk menjawab persoalan diatas maka, penulis mencoba memberikan beberapa solusi sebagai berikut.
Pertama, perlu adanya sebuah forum ilmiah yang membahas khusus terkait masalah tenaga kerja ini karena tidak sedikit TKI asal NTT menyandang gelar TKI ilegal yang berangkat ke luar negeri tanpa melalui mekanisme prosedural yang benar.

Lalu apakah hal ini rakyat yang disalahkan karena tingkat pendidikan dan pemahaman yang masih minim sehingga mudah untuk dipengaruhi oleh para oknum yang bejat dan tengik yang membawa mereka kedalam jurang kegelapan dan berujung pada kematian?
Sebaiknya jangan mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar tetapi mari kita bersama-sama mencari jalan keluarnya karena jika hanya menyalahkan satu sama lainnya maka tidak akan menemukan dimana letak titik persoalannya, namun membuat persoalan semakin rumit dan semakin banyak peti mayat yang berdatangan silih berganti.

Kedua, pemerintah sebagai pemangku kebijakan juga harus duduk bersama membahas permasalah ini kemudian melahirkan solusi agar tidak terjadi lagi penerimaan peti mayat yang terjadi secara terus menerus di bumi flobamorata ini.
Tentunya salah satu cara yang bisa di tempuh adalah melalui mekanisme politik hukum yang akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan baik dalam skala regional mapun skala nasional sehingga bisa terciptanya keadilan sosial, ekonomi, polititk, maupun hukum di bumi flobamorata ini

Ketiga, penegak hukum harus benar-benar mengakar dan menghujam kedalam sanubari mereka agar persoalan-persoalan yang bernuansa hukum ini bisa di selesaikan sehingga makna dari trias politica (kepastian, keadilan, dan kemanfaatan) hukum dapat dirasakan oleh semua warga demi tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia terkhususnya rakyat Nusa Tenggara Timur itu sendiri.
Jangan sampai hukum di negeri Nusa Terindah Toleransi ini, mengutip kalimat Jhonson Panjaitan seperti pasar gelap keadilan hukum yang lebih busuk dan bau dari pasar ikan.

Akhirnya penulis mengajak kepada seluruh lapisan warga masyarakat Nusa Tenggara Timur baik pada lapisan bawah, menengah, maupun lapisan atas untuk sama-sama merespon persoalan ini agar terciptanya masyarakat Nusa Tenggara Timur yang madani baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, maupun hukum yang tetap menjaga eksistensinya sebagai nusa terindah toleransi dan bukan menjadi Nusa Tanpa Toleransi yang menjadi rumah penerimaan peti mati. 


Post a Comment for "NTT RUMAH PETI MATI"