NTT DALAM NUANSA JUAL BELI MANUSIA - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

NTT DALAM NUANSA JUAL BELI MANUSIA



Penulis: Ibnu Tokan

Jual beli manusia atau dengan kata lain perdagangan manusia merupakan kasus yang telah menjadi masalah regional,nasional, maupun internasional yang berlarut-larut yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara baik oleh pemerintah di setiap negara, maupun organisasi-organisasi internasional maupun nasional yang berwenang dalam menangani masalah perdagangan manusia (Human trafiicking) tersebut.

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam salah satu dari 3 Protokol Palermo mendefenisikan Human trafficking sebagai perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman atau pengunaan kekerasaan atau bentuk-bentuk lain dari pemaksaan, penculikan, penipuan, kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan agar dapat memperoleh persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi. Eksploitasi termasuk paling tidak eksploitasi untuk melacurkan orang lain atau bentuk bentuk lain dari eksploitasi seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik-praktik serupa perbudakan, penghambaan atau pengambilan organ tubuh.

Dalam laporan yang disampaikan oleh BP3TKI Kupang mengatakan bahwa baru dua bulan pertama tahun 2018 sudah terdapat 9 jenazah asal NTT yang dipulangkan dari luar negeri. Satu diantaranya adalah saudara Adelina Sau, gadis kelahiran Oenino Timur Tengah selatan yang meninggal dunia karena disiksa majikannya. 

“Pergi dengan senyuman, pulang dengan tangisan”. Itulah frase yang bisa disodorkan bagi kita ketika meneropong realita NTT yang penuh dengan peti mati. Ironis bukan ? 

Kasus Human Trafficiking menjadi wacana yang sangat diperbincangkan masyarakat luas saai ini. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana S. Yembesi mengatakan bahwa “Nusa Tenggara Timur masuk dalam zona merah human trafficiking atau perdagangan manusia. Provinsi Nusa Tenggara Timur selalu menjadi erhatian khusus kami soal perdagangan manusia karena sudah massuk dalam zona merah.” Katanya dalam keterangan pers darii Humas Kementerian PPPA di Kupang, Kamis (23/11/2017).

Menurut Prof. Dr. Maidin Gultom, S.H.,M.Hum dalam bukunya Perlindungan Hukum Terhadap Anak dan Perempuan menjelaskan bahwa terdapat banyak faktor yang mendorong orang terlibat dalam trafficking, yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu penawaran dan permintaan. Faktor-Faktor penyebab dari sisi penawaran antara lain: 1. Trafficking  merupakan bisnis yang menguntungkan, merupakan sumber keuntungan terbesar setelah perdagangan narkoba dan perdagngan senjata; 2. Kemiskinan akhibat multi krisis yang disebabkan oleh ekonomi keluarga; 3. Keinginan untuk hidup lebih layak tetapi denggan kemampuan yang mnim dan kurang mngetahui informasi pasar kerja.

Faktor penyebab dari sisi permintaan, antara lain : 1. Kebutuhan para majikan akan pekerja murah, penurut, dan mudah ditakut-takuti telah mendorong menigkatkannya demand terhadap pekerja anak; 2. Perubahan struktur sosial ditambah cepatnya industtrialisasi/komersialisasi yang merubah tatananan dan kebutuhan permpuan dan anak sehingga dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga; 3. Kemajuan bisnis pariwisata diseluruh dunia yang juga menawarkan pariwisata seks termasuk yang mendorong tingginya permintaan akan perempuan dan anak-anak unuk bisnis itu. Apakah ini juga yang sedang melanda NTT?

Ketika melihat sepintas kultur, budaya dan geografi NTT, apa yang salah dengan NTT? Apakah NTT ini tanah kutukan seperti iblis yang telah diusir tuhan dari surga? Ataukah tanah terjanji yang menjanjikan surga? Mengapa sampai sekarrang diusianya yang sudah 58 tahun masih menyiksakan keterpurukan dalam problematika sosial budaya yang kian akut meronggrong Nusa Indah Toleransi (NTT) ini? 
Mengapa setiap saat Adelina Sau, Mika Boimau dan putra-putri NTT lainnya harus membanjiri negeri jiran, Singapura, dan di daerah-daearah di indonesia lainnya untuk mencari kerja? Mengapa NTT terus dibanjiri deengan air mata? Mengapa selalu saja dikirim dengan kado peti mati ? apakah lapangan pekerjaan tidak ada lagi di NTT?

Dalam surat kabar harian pos kupang memuat sebuah berita mengenai jenazah putra-putri NTT yang dpulangkandari negeri sebeang. Dalam berta tersebut termuat sepnggal pernyataan dari Sekertaris Komisi V DPRD NTT, Ismail J. Semau menanggapi kasus kematian TKI/TKW dengan mengatakan bahwa DPRD sangat prihatin dengan kondisi TKI asal NTT yang selalu dipulangkan dengan keadaan tidak bernyawa lagi atau diam membisu terkapar di dalam peti. Anak-anak NTT selama ini keluar negerihanya diiming-iming upah yang besar tanpa melihat dampak yang akan dterima. 

Ketika diperhadapkan dengan persoalan seperti itu semua orang akan berkata belas kasihan terhadap persoalan yang terjadi , namun yang dibutuhkan bukan hanya sekedar berstatement saja tetapi bagaimana tindak lanjut yang diambil baik dari pihak pemerintah atau dengan jajarannya maupun masyarakat luas juga harus terlibat dalam memikirkan solusi yang kemudian bisa memecahkan persoalan Human Trafficking ini.

Mengapa NTT masuk dalam nuansa jual beli manusia? Seolah-olah tidak ada pekerjaan lain selain itu? Dimanakah tugas dan peran dari pemerintah untuk mengatasi persoalan ini? Akankah NTT menjadi provinsi yang penuh dengan peti mati? Kasus Human Trafficking ini seolah-olah menghidangkan kepada publik, perseteruan atau pertarungan antar rupiah melawan ringgit ataupun dolar. Realitapun berrbcara ringgit menang kadonya peti buat rupiah, rupiah menang kadonya keselamatan bagi masyarakat. Sedih !!!.

Menurut laporan BP3TKI Kupang dalam data lima tahun terakhir kematian TKI/TKW asal NTT kian meningkat. Tahun 2013 sebanyak 31 orang meninggal dunia (11 orang TKI/TKW legal dan 2 orang ilegal), tahun 2014  sebanyak 21 (8 orang legal dan 13 orang ilegal), tahun 2015 sebanyak 28 orang (5 orang legal dan 23 orang ilegal), tahun 2016 sebanyyak 49 orang (7 orang legal dan 42 orang ilegal) dan tahun 2017 sebanyak 63 orang (8 orang legal dan 55 orang ilegal). Miris emang tapi kenyataan berbicara demikian. Semua masyarakat NTT kian mnduga-duga berapa jumah korban diakhir thun 2018 nanti? Apakah akan bertambah ataukah berkurang? Apakah NTT adalah pasar dengan nuansa jua beli manusia? 
Menurut hemat penulis langkah-langkah yang bisa ditempuh sebagia jalan meretas dan memperbaiki kondisi Human trafficking di NTT yakni pertama yang harus diperangi adalah kemiskinan karena sesuai dengan data yang disamppaikan oleh Ibu Emi Nomleni dalam sebuah seminar bahwa kemiskinan di NTT sampai september 2017 adalah 21,38% atau 1.130 orng miskin. Ini menjadi pekerjaan rumah untuk pemerintah dalam hal ini sebagai pengambil kebijakan untuk menyelesaikan persoalan ini. Apabila persoalan kemiskinan sudah bisa diselesaiikn maka tahap kedua adalah melakukan sosalisasi terhadap bahaya human trafficking kepada masyarakat dari dini agar masyarakat mampu mengetahui dan memahami ciri-ciri dari kejahatan human traficking.
Yang terakhir adalah perlu adanya regulasi yang mengatur tentang korban dari human traficking agar hak-hak korban bisa dilindung oleh undang-undang karena kekuatan suatu peraturan tergantung sejauh mana itensitas regulasi yang kemudian diambil dilevel pemerintah untuk menangani sebuah kasus dalam hal  ini kasus human trafficking. 

Bukan hanya itu saja akan tetapi perlu ada pengawasan yang lebih intensif didaerah perbatasan terkait dengan jalur keluar dan masuk tenaga kerja sehingga bisa meminimalisir kejadian yang sama yang pernah menimpah putra-putri terbaik NTT sehingga bisa melahirkan NTT yang bukan dalam nuansa jual beli lagi yang kemudian menambah daftar list nama dalam peti mati tetapi melahirkan nuansa yang  damai dalam bingkai kebinekaan.


Post a Comment for "NTT DALAM NUANSA JUAL BELI MANUSIA"