Krisis dunia intelektual (Hegemoni dunia literasi antara wacana teori dan praktik) - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Krisis dunia intelektual (Hegemoni dunia literasi antara wacana teori dan praktik)



Penulis :  Ibnu Tokan

Setiap bangsa yang sedang bergerak maju tidak pernah terlepas dari peran kaum intelektualnya. Lihat saja seperti pada peradaban Yunani Kuno misalnya, kaum intelektual senantiasa mengambil peran penting dalam pencerahan peradaban bangsa-bangsa sepanjang sejarah. Babak baru peradaban modern di Inggris dan Jerman pada abad ke-17 dan ke-18 juga dimulai oleh kaum intelektual.

Kaum intelektual sendiri adalah orang-orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan.

Ali syariat, seorang pemikir sekaligus salah satu tokoh di balik pecahnya revolusi iran pada tahun 1979 pernah mengatakan bahwa kaum intelektual adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah.

Lihat Antonia Gramsci, Che Guevara, Rosa Luxemburg, Sayyid Qutb dan Ali Syariati, mereka membangkitkan kembali spirit pergerakan dalam diri seorang intelektual. Mereka tidak sekedar melakukan analisis tetapi terlibat dalam gerakan perlawanan. Ujung dari kehidupan mereka adalah kematian yang tragis. Batas pengorbanan mereka telah membuat posisi intelektual tidak lagi berjarak dengan penderitaan rakyat. Kita sekarang ini memerlukan tangan intelektual yang berani membasuh penderitaan dengan perlawanan.

Indonesia sendiri memiliki beberapa tokoh intelektual seperti Moh. Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Nurcholish Madjid, Munir said thalib dan beberapa intelektual lainnya. Tokoh-tokoh ini adalah sebagain kecil yang mewakili kaum intelektual lainnya. Gagasan mereka sangat kental dengan corak perlawanan dan berdiri di atas imperium idealisme yang sarat akan politik nilai dan sampai hari ini gagasan mereka sangat mempengaruhi corak pemikiran di kalangan generasi muda. 

Meminjam apa yang di katakan oleh Edward W. Said, Guru Besar bahasa dan sastra Universitas Columbia mengatakan “seorang intelektual adalah pencipta sebuah bahasa yang mengatakan yang benar kepada yang berkuasa, entah sesuai atau tidak dengan pikiran-pikiran pihak penguasa. Karena itu, ia lebih cenderung ke oposisi daripada ke akomodasi. Dosa paling besar seorang intelektual adalah apabila ia tahu apa yang seharusnya dikatakan tetapi menghindari mengatakannya. Ia hendaknya jangan sekali-kali mau mengabdi kepada mereka yang berkuasa.”

Dalam konteks ini, kita perlu melihat peluang dan tantangan kaum intelektual hari ini, yang di perhadapakan dengan suatu kondisi di mana perkembangan teknologi yang semakin pesat memberikan dampak yang begitu besar terhadap polarisasi arah gerak dan alternatif strategi apa yang harus di persiapkan untuk menghadapi laju perkembangan zaman.

KONDISI HARI INI

Secara Historis posisi tawar kaum intelektual di berbagai generasi sangat di perhitungan. Dalil-dalil yang mereka keluarkan sarat akan pesan kemanusiaan yang merubah corak pemikiran dari generasi ke generasi.

Kondisi dunia hari bukanlah penjajahan yang semata-mata di lakukan secara fisik dengan mengangkat senjata namun yang terjadi adalah pertarungan antar gagasan, kuasa media, black propaganda dan gray propaganda.

Pola perkembangan teknologi yang kian pesat hari ini seperti dua dua mata pedang yang sama-sama tajam, pertama memberikan dampak positif terhadap sumber daya manusia dan yang kedua memberikan dampak negatif yang menyebabkan degredasi intelektual secara berkala.

Dan posisi kaum intelektual hari ini berada di antara kedua mata pedang ini. Berdiri melawan dan melebur bersama kekuatan rakyat atau sembunyi di balik ketiak para penguasa dan menjadi binatang peliharaan pemerintah.
untuk mengantisipasi hal ini, di perlukan nalar yang kritis. Dan nalar kritis ini harus di bangun di atas kosep, metodologi dan analisis yang secara komprehensif. Inilah yang di namakan intelektual progresif.

Misalnya, persoalan hari ini yang menggerogoti dunia intelektual adalah minimnya daya baca dan minat baca di kalangan generasi muda.
Faktanya UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. 

Ini membuktikan bahwa persoalan dunia intelektual hari ini adalah kesadaran untuk memaknai betapa pentingnya membaca. 
Orang-orang besar seperti yang di sebutkan di atas tidak duduk diam dan mengharapkan kado cengeng dari langit tetapi mereka selalu menghabiskan waktunya untuk mendalami berbagai literasi lewat membaca yang bertujuan untuk membentuk konsep, metodelogi dan analisis pada bidang ilmu tertentu.

Meminjam bahasanya Milan Kundera, jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya. Maka pastilah bangsa itu akan musnah.
Pernyataan ini sesuai dengan realitas hari ini yang menggambarkan betapa kita sudah berada di ambang batas kehancuran.
Bagaimana tidak?  Sweeping buku yang sempat terjadi beberapa bulan yang lalu menandakan bahwa rezim hari ini sedang membunuh nalar berpikir kritis generasi hari ini. 
Padahal jika merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi tahun 2010 yang mencabut Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum maka pelarangan buku haruslah lewat proses peradilan sesuai dengan mekanisme yang di atur dalam Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut.

Kondisi darurat semacam ini sangat tragis, sebab di satu sisi data dari UNESCO bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan dan sisi lain razia dan sweeping buku pun di lakukan. Artinya sudah minim minat baca di tambah lagi buku-buku juga ada yang di larang beredar. 

Terakhir, penulis mengutip apa yang di sampaikan oleh Paulo Coelho, "koleksi buku yang di kumpulkan susah payah seumur hidup tidak akan ada artinya bila hanya sebagai pajangan.
Artinya koleksi buku tidak akan bermanfaat jika hanya bergerak pada wilayah teori namun ia harus menyentuh pada jantung rakyat lewat implementasi nyata dari apa yang telah di pelajari. 

Dalam bahasa penulis, dunia intelektual adalah akumulasi antara narasi dan aksi yang bermuara pada pertarungan antara gagasan dan literasi yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia dari suatu peradaban karena bangsa yang besar tidak hanya mengejar kuantitas sumber daya manusia namun juga memperhatikan kualitas sumber daya manusia.



Post a Comment for "Krisis dunia intelektual (Hegemoni dunia literasi antara wacana teori dan praktik)"