Jejak langkah kontribusi HMI bagi umat dan bangsa di NTT(Refleksi 72 tahun HMI mengawal NKRI) - Intrupsi News
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jejak langkah kontribusi HMI bagi umat dan bangsa di NTT(Refleksi 72 tahun HMI mengawal NKRI)



Penulis : Ibnu Tokan

Napak Tilas sejarah HMI

HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) merupakan organisasi eksternal kampus tertua di indonesia yang didirikan pada tanggal 14 Rabiul Awwal 1366 H atau bertepatan dengan tanggal 05 Februari 1947 M dengan dua tujuan awal didirikan yakni:
pertama,mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat indonesia. Kedua, menegakan dan mengembangkan ajaran islam.
Dua komitmen awal didirikan HMI ialah komitmen keumatan dan komitmen kebangsaan yang senantiasa harus terpatri dalam diri setiap kader hijau hitam.

HMI juga merupakan organisasi perkaderan dan organisasi perjuangan yang mana dalam catatan sejarah yang panjang dalam mengawal NKRI sejak didirikan sampai dengan umur yang ke-72 Tahun ini, selalu menuai dinamika yang berkepanjangan baik dinamika dalam tubuh internal HMI itu sendiri maupun dinamika eksternal yang selalu menimpa himpunan ini.

Dinamika yang merongrong tubuh himpunan ini bukan hanya terjadi pada skala nasional namun pada skala regional juga selalu menuai berbagai persoalan yang harus siap di selesaikan oleh setiap kader himpunan.

Hal ini juga dijelaskan dalam latar belakang berdirinya HMI yakni,

1. Situasi dunia Internasional

Situasi dunia internasional pada saat itu pasca perang dunia kedua menjadi persoalan yang rumit dan harus segera diselesaikan oleh mereka yang memiliki semangat baja.
Hal ini juga terjadi dalam tubuh islam sendiri,, islam telah jauh dari titah perjuangannya karena penyimpangan nilai-nilai dalam Al-Quran dan hadits Rasulullah SAW sangat terpampang jelas sekali. 
Berbagai gerakan pembaharuan islam mulai bermunculan dimana-mana bahkan sampai menggerogoti sendi-sendi kehidupan umat dan bangsa kala itu.

2. Situasi NKRI

Tahun 1596 Cornelis de Houtman mendarat di Banten. Maka sejak itu pulalah Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun yang berujung pada proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 yang menandai awal kemerdekaan RI.
Situasi Negara pasca diproklamirkan kemerdekaan indonesia saat itu masih sangat rawan terkena hasutan-hasutan ideologi luar yang siap menyerang ideologi pancasila kapan pun. Olehnya HMI merasa perlu untuk mengawal NKRI sehingga pada tanggal 05 februari 1947, HMI pun lahir bergandeng tangan dengan pemerintah mengawal NKRI kita tercinta ini.

3. Kondisi Umat Islam Indonesia

Ada 4 golongan yang menandai kondisi umat islam saat itu, yaitu : Pertama : Sebagian besar yang melakukan ajaran Islam itu hanya sebagai kewajiban yang di adatkan seperti dalam upacara perkawinan, kematian serta kelahiran. Kedua : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang mengenal dan mempraktekkan ajaran Islam sesuai yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketiga : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang terpengaruh oleh mistikisme yang menyebabkan mereka berpendirian bahwa hidup ini adalah untuk kepentingan akhirat saja. Keempat : Golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman, selaras dengan wujud dan hakekat agama Islam.

4. Kondisi Perguruan Tinggi dan Dunia Kemahasiswaan

Ada dua polemik dasar saat itu, yakni pertama: kondisi Perguruan tinggi yang menerapkan sistem pendidikan alat barat yang bermuara pada sekularisme, yang kedua : Ada dua organisasi dibawah pengaruh komunis yakni Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI).

Ayahanda Lafran Pane, mengingatkan kita bahwa, dimana pun kita berkecimpung, semangat ke-HMI-an harus senantiasa terpatri dalam diri setiap kader.
Jika semangat ke-HMI-an telah menipis pada diri setiap kader maka kita telah menandatangani sertifikat kematian untuk HMI.

HMI Sebagai rumah peradaban

Ibnu Khaldun mengatakan bahwa setiap peradaban suatu bangsa di bagi dalam 3 fase.
Fase pertama, hidup dalam badawah yang keras dan jauh dari kemewahan, penuh dengan watak positif pengembara, ashabiah yang menyatukan masyarakat sangat kokoh dan memberi kekuatan dan kesanggupan untuk menguasai bangsa lain. Fase kedua, generasi ini berhasil meraih kekuasaan dan mendirikan negara, terjadi peralihan dari badawah kepada hadharah (kota). Kemewahan mulai muncul, rasa puas dengan apa yang dimiliki melonggarkan ashabiah. Rasa rendah dan suka menyerah juga mulai tampak. Fase ketiga, generasi ini telah lupa pada peringkat hidup nomadik dan hidup kasar. Kemewahan telah merusak, karena besar dalam hidup yang senang dan gampang. Pada generasi ketiga ini negara mulai meluncur turun. Hingga nantinya negara hancur.

Jikalau hal ini di tarik dalam peradaban HMI maka generasi pertama ialah generasi pembangun yang mana salah satu tokoh sentralnya yakni Ayahanda Lafran Pane, sang pendiri HMI yang menjadikan HMI sebagai rumah peradaban dengan visi keumatan dan kebangsaan.
Generasi kedua, ialah generasi  penikmat yang mana di generasi ini sifat melebih-lebihkan sesuatu/bangga dengan jubah kebesaran HMI sepanjang perjalanan dari awal didirkan sampai hari ini sehingga lupa berbuat dan berkontrbusi secara nyata untuk umat dan bangsa.
Generasi Ketiga, ialah generasi yang tidak memiliki hubungan emosional dengan HMI yang mana banyak kader HMI hari ini terpenjara dalam sikap apatis, pragmatis, dan hedonisme melihat ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di bangsa ini.
Seharusnya seorang kader HMI harus mampu menjadi kader yang bermanfaat bagi umat dan bangsa bukan menjadi pelengkap penderita di organisasi ini.

Segala apapun yang menjadi media aktualisasi diri seorang kader telah tersedia di himpunan ini. Apapun yang dibutuhkan oleh kader sudah disiapkan di HMI ini. 
Perlu kita ketahui bersama bahwa 5-6 tahun ke depan hanya dua pilihan untuk himpunan ini.
Pertama, HMI menjadi tempat paling nyaman bagi setiap kader untuk berproses. Atau kedua, HMI menjadi organisasi yang tidak lagi relevan terhadap perkembangan zaman akhibat dari sikap apatis, pragmatis dan hedonis dari setiap kader himpunan ini. 
Pilihan ada ditangan kita sebagai seorang kader HMI.

HMI untuk NTT

Setiap kader himpunan dimanapun ia berada senantiasa membawa titah perjuangan untuk umat dan bangsa.
Hal ini juga menjadi tanggung jawab kader HMI cabang Kupang sejak didirikan pada tahun 1964 yakni dua tahun setelah Universitas Nusa cendana Kupang berdiri harus senantiasa bergandeng tangan bersama pemerintah provinsi Nusa cendana untuk senantiasa mengawal persoalan keumatan dan kebangsaan di NTT.

HMI yang berada di lingkup NTT memiliki 3 cabang yakni cabang kupang, cabang Alor dan cabang ende.
Masing-masing cabang mempunyai tanggung jawab moril untuk senantiasa mengawal setiap persoalan yang ada di cabang masing-masing.

HMI cabang kupang misalnya yang menjadi salah satu cabang di NTT yang berkedudukan di ibukota Provinsi NTT senantiasa mengawal persoalan-persoalan yang ada di NTT secara umum dan kupang secara khusus. 
Bukan hanya persoalan dalam skala regional saja yang menjadi indikator fokus HMI cabang kupang namun dalam skala nasional bahkan internasional pun HMI turun andil didalamnya.

Berbagai kasus yang terjadi di NTT seperti Humman Taraficking, kekerasan terhadap perempuan dan anak, kasus kemiskinan dan masalah ekonomi tidak luput dari peran HMI cabang kupang untuk senantiasa mengawal persoalan ini. 
Sebab mengutip pernyataan dari imam syafi'i mengatakan bahwa apabila Maruf telah kurang diamalkan maka dia menjadi munkar dan apabila munkar telah tersebar maka dia menjadi Maruf.

Setiap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh siapapun maka kita harus siap menyatakan tanda perlawanan terhadapnya, sebab melawan kezaliman adalah bagian dari cinta terhadap tuhan.

HMI hadir sebagai organisasi perjuangan untuk memperjuangan hak-hak rakyat yang tertindas selama ini. Hak yang harusnya menjadi predikat kemerdekaan milik seseorang yang telah di renggut darinya maka kita harus siap mengobarkan api perlawanan untuk merebutnya kembali. 

Persoalan di NTT hari masih terlalu banyak dan menjadi pekerjaan rumah bagi kader-kader HMI di NTT.
Persoalan yang paling mendasar ialah bagaimana kita senantiasa menjaga dan merawat keberagamaan yang ada di Nusa Terindah Toleransi ini. 
Mengapa demikian? Sebab pelangi tidak akan indah jika yang ada hanya satu warna, ia harus memiliki berbagai macam warna sehingga bisa menjadi pelangi yang sempurna.
Begitu juga dengan perbedaan. Perbedaan hadir bukan untuk memecah bela namun perbedaan hadir untuk menyatukan kita sehingga keberagaman atas dasar perbedaan menjadikan kita senantiasa hidup dalam bingkai warna yang berbeda namun tetap dengan satu tujuan yakni menjaga dan merawat NTT sampai tetes darah penghabisan.

Ini yang harus terpatri dalam diri setiap kader HMI di NTT ini secara umum dan HMI cabang kupang secara khusus, sebab HMI bukan saja himpunan mahasiswa islam namun juga menjadi Harapan Masyarakat Indonesia, "ucap jendral sudirman kala itu".

Apakah predikat Harapan masyarakat Indonesia bisa kita aktualisasikan menjadi Harapan Masyarakat NTT?

Jawabannya sangat bisa sekali sebab HMI hadir karena kebutuhan zaman, HMI hadir sebagai jawaban atas setiap pertanyaan diatas alam semesta ini. 
Olehnya sebagai kader himpunan , mari kita sama-sama dalam momentum memperingati milad HMI Ke-72 Tahun ini, mari kita sama-sama sebagai kader himpunan untuk senantiasa berjalan berdampingan dengan pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur untuk sama-sama menyelesaikan persoalan yang ada di nusa tenggara timur ini.

Mari kita saling ingat mengingat dengan spirit persaudaraan sehingga melahirkan solusi yang bisa menjadikan NTT sebagai Icon keberagaman dimata indonesia secara khusus bahkan dunia sekalipun.
Mari kita jadikan NTT sebagai kota literasi yang selalu menanamkan budaya membaca pada setiap generasi sehingga kedepannya manusia-manusia di NTT menjadi manusia yang Visioner, kreatif dan Inovatif demi menjawab berbagai persoalan di Nusa Terindah Toleransi ini.


Post a Comment for "Jejak langkah kontribusi HMI bagi umat dan bangsa di NTT(Refleksi 72 tahun HMI mengawal NKRI)"